JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan kesehatan terbaru datang dari Kerajaan Norwegia, di mana Putri Mahkota Mette-Marit dikabarkan telah resmi masuk dalam daftar tunggu untuk prosedur transplantasi paru-paru. Keputusan ini diambil menyusul kondisi kesehatannya yang memerlukan penanganan medis intensif.

Saat ini, Putri Mahkota Mette-Marit telah menghentikan sementara seluruh tugas-tugas resminya sebagai anggota Kerajaan. Ia dijadwalkan akan menjalani operasi transplantasi tersebut segera setelah ditemukan adanya donor paru-paru yang sesuai.

Putri Mahkota yang kini berusia 52 tahun tersebut pertama kali didiagnosis mengidap kondisi yang sangat jarang terjadi ini pada tahun 2018. Penyakit yang dideritanya merupakan bentuk langka dari fibrosis paru yang progresif.

Kondisi medis yang dialami Putri Mahkota Mette-Marit menyebabkan kesulitan signifikan dalam proses pernapasannya sehari-hari. Hal ini disebabkan oleh adanya pembentukan jaringan parut yang terjadi secara progresif di dalam organ paru-parunya.

Paru-paru yang mengalami pengerasan akibat fibrosis membuat proses pengambilan napas menjadi sangat sulit dilakukan. Akibatnya, efisiensi oksigen untuk masuk ke dalam aliran darah menjadi terhambat secara substansial.

Dampak dari penyakit ini telah berulang kali memaksa Putri Mahkota untuk absen dari berbagai jadwal dan kegiatan resmi Kerajaan Norwegia. Hal ini merupakan konsekuensi langsung dari fluktuasi kondisi kesehatannya.

Dilansir dari BBC, kondisi fibrosis paru yang diderita oleh Putri Mahkota Mette-Marit adalah penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara total. Oleh karena itu, transplantasi menjadi salah satu opsi medis utama yang kini sedang ditempuh.

"Kondisi itu membuatnya kesulitan bernapas dan mengalami pembentukan jaringan parut pada paru-paru," sebagaimana disebutkan dalam informasi mengenai diagnosisnya. Kondisi ini memerlukan pengawasan medis yang ketat dan berkelanjutan.

"Paru-parunya menjadi kaku sehingga sulit bernapas dan oksigen lebih sulit masuk ke dalam aliran darah," jelas sumber mengenai dampak fisik yang ditimbulkan oleh penyakit tersebut. Kesulitan bernapas ini menjadi tantangan terbesar dalam kehidupan sehari-hari beliau.