JAKARTAHYPE.COM - Desainer ternama Toton Januar kembali memperkenalkan karya terbarunya yang diberi nama 'Kala'. Koleksi ini merupakan eksplorasi mendalam terhadap siluet busana nasional Indonesia dengan inspirasi utama dari konsep waktu sebagai sebuah kekuatan.
Inspirasi utama dari koleksi 'Kala' ini ternyata bersumber dari sosok Batara Kala dalam mitologi Jawa dan Bali. Toton Januar tidak hanya melihat Batara Kala sebagai simbol kehancuran, melainkan sebagai pengingat filosofis bahwa setiap akhir selalu membuka jalan bagi kemungkinan baru yang lebih baik.
Gagasan artistik ini muncul dari kegelisahan Toton terhadap kondisi dunia yang diliputi ketidakpastian. Berbagai krisis mulai dari politik, sosial, ekonomi, hingga lingkungan global menjadi latar belakang konseptual koleksi ini.
Konsep 'Kala' kemudian diterjemahkan melalui sebuah dialog desain yang menampilkan dua pendekatan yang kontras namun saling melengkapi. Di satu sisi, Toton mengeksplorasi kekayaan busana tradisional Indonesia yang telah berkembang selama berabad-abad.
"Di satu sisi, ‘Toton’ mengeksplorasi kekayaan busana tradisional Indonesia seperti kebaya, Baju Bodo, busana tradisional Bali, hingga praktik berkain yang telah berkembang selama berabad-abad," demikian penjelasan yang disampaikan mengenai koleksi ini.
Secara bersamaan, koleksi ini juga menghadirkan sentuhan unik dari safari suit dan busana militer. Elemen-elemen ini dipilih karena identik dengan struktur yang tegas, fungsi yang jelas, serta kesiapsiagaan yang tinggi.
"Di sisi lain, koleksi ini menghadirkan sentuhan safari suit dan busana militer yang identik dengan struktur tegas, fungsi, serta kesiapsiagaan," demikian informasi yang diberikan mengenai pendekatan desain kedua.
Perpaduan antara busana tradisional yang lembut dan busana bersiluet tegas ini menghasilkan sebuah keseimbangan yang menarik. Koleksi ini memainkan permainan visual antara kelembutan dan ketegasan, transparansi dan proteksi, serta harmoni antara tradisi dan sentuhan modernitas.
Melalui total 48 tampilan yang disajikan, Toton Januar menawarkan sebuah interpretasi segar mengenai bagaimana budaya dapat terus berevolusi seiring perubahan zaman. Tentunya, hal ini dilakukan tanpa kehilangan akar identitasnya yang kaya.