JAKARTAHYPE.COM - Hipoglikemia, kondisi medis yang ditandai dengan penurunan kadar gula darah di bawah batas normal, memerlukan perhatian serius. Kondisi ini tidak hanya mengintai penderita diabetes, tetapi juga bisa dialami oleh individu tanpa riwayat penyakit tersebut.
Gula darah, atau glukosa, merupakan sumber energi vital bagi seluruh sel tubuh, termasuk otak yang sangat bergantung pada pasokan glukosa yang stabil. Penurunan drastis gula darah dapat memicu berbagai gejala dan bahkan berujung pada kondisi yang mengancam jiwa.
Pada umumnya, hipoglikemia pada penderita diabetes terdeteksi ketika kadar gula darah turun di bawah 70 miligram per desiliter (mg/dL) atau 3,9 milimol per liter (mmol/L). Sementara bagi orang tanpa diabetes, ambang batasnya biasanya lebih rendah, yaitu di bawah 55 mg/dL atau 3,1 mmol/L.
Penanganan cepat menjadi kunci utama dalam mengatasi hipoglikemia, biasanya dengan mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula atau karbohidrat. Untuk kasus yang lebih parah, intervensi medis segera, termasuk pemberian obat glukagon, mungkin diperlukan.
"Hipoglikemia tidak hanya dialami oleh pengidap diabetes. Namun, juga bisa terjadi akibat aktivitas fisik berlebihan, kurangnya asupan kalori, atau gangguan pada metabolisme insulin," jelas Spesialis Penyakit Dalam Endokrin-Metabolik-Diabetes Universitas Airlangga (UNAIR) dr. Hermina Novida, Sp.PD, K.EMD, FINASIM.
dr. Hermina Novida menambahkan bahwa aktivitas fisik yang berlebihan dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan penggunaan kalori, menjadi salah satu pemicu hipoglikemia. Puasa berkepanjangan serta cadangan glikogen yang menipis pada individu dengan berat badan rendah atau penyakit liver kronis juga berpotensi menyebabkan kondisi ini.
"Terdapat pula faktor lain, seperti tumor tertentu yang mempengaruhi kerja insulin, pengaruh obat-obatan, serta kondisi infeksi akut atau kritis yang mengganggu asupan kalori. Selain itu, kadar insulin yang terlalu tinggi akibat insulinoma atau penyakit ginjal kronik juga bisa menjadi penyebab," ungkap dr. Hermina Novida.
Faktor non-medis seperti pola makan yang tidak teratur dan komposisi makanan yang tidak seimbang turut berkontribusi pada risiko hipoglikemia. Stres dan kurangnya istirahat dapat mengganggu pola makan, mengurangi nafsu makan, dan akhirnya mengganggu asupan kalori.
"Ketika asupan kalori terganggu akibat pola makan yang tidak teratur. Tubuh tidak memiliki cadangan energi yang cukup, sehingga risiko hipoglikemia semakin meningkat," ujar dr. Hermina Novida.