JAKARTA, JakartaHype.com - Laporan terbaru dari impact.com, Cube, dan Dentsu menunjukkan bahwa kecerdasan buatan (AI) generatif telah mengubah cara konsumen di Asia Tenggara menemukan produk. Namun, temuan ini juga menegaskan bahwa rekomendasi dari sumber terpercaya, seperti kreator dan teman, tetap menjadi faktor krusial dalam mendorong keputusan pembelian.

Edisi keempat dari laporan tahunan E-commerce Influencer and Affiliate Marketing in Southeast Asia 2026 ini mengupas evolusi perdagangan digital di kawasan tersebut. Berdasarkan riset terhadap 2.400 konsumen di Singapura, Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Filipina, serta data pasar e-commerce regional, laporan ini menemukan adopsi AI generatif seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude semakin berperan dalam tahap penemuan (discovery) dan pertimbangan (consideration) konsumen.

Sebanyak 24% konsumen Asia Tenggara kini memanfaatkan AI generatif untuk mendukung perjalanan belanja mereka, membuka kanal baru dalam penemuan produk. Menariknya, konten yang dihasilkan AI ini turut dibentuk oleh suara pihak ketiga, termasuk kreator, publisher, dan pemberi ulasan. Hal ini memberikan peluang bagi merek untuk mengaktifkan mitra yang tidak hanya mendorong penjualan langsung, tetapi juga memengaruhi bagaimana merek ditampilkan dan direkomendasikan oleh AI.

Meskipun demikian, rekomendasi dari keluarga dan teman masih memegang posisi teratas sebagai sumber paling dipercaya dalam pengambilan keputusan pembelian, dengan skor pengaruh 2,42 dari 4. Angka ini sedikit mengungguli ulasan daring (2,36) dan kreator (1,98).

Lebih lanjut, dua dari tiga konsumen (67%) mengaku pernah melakukan pembelian produk secara khusus karena rekomendasi dari seorang kreator. Hal ini menegaskan bahwa kepercayaan dan ulasan yang otentik tetap menjadi inti dari perdagangan, bahkan di tengah pesatnya perkembangan AI dalam lanskap penemuan produk.

Laporan ini juga menyoroti bahwa AI tidak menggantikan kanal-kanal yang sudah ada, melainkan menjadi lapisan baru dalam ekosistem perdagangan yang semakin terhubung. Konsumen kini bergerak dinamis antara asisten AI, marketplace, kreator, publisher, retail media, hingga kanal milik brand. Oleh karena itu, strategi kemitraan yang terintegrasi dan selalu aktif (always-on) menjadi krusial agar merek tetap terlihat dan relevan di setiap titik interaksi.

"Setiap pergeseran besar dalam e-commerce telah mengubah cara konsumen menemukan produk—dari mesin pencari dan marketplace hingga media sosial—dan AI mewakili evolusi berikutnya," ujar Nick Randall, AVP, Customer Growth, APJ di impact.com. "Namun meskipun proses penemuan terus berkembang, kepercayaan tetap sangat konsisten. Konsumen tetap mengandalkan kreator, publisher, dan rekomendasi tepercaya untuk memvalidasi keputusan pembelian mereka. Peluang bagi brand bukanlah memilih antara AI dan kemitraan, melainkan memahami bagaimana keduanya dapat bekerja sama untuk menciptakan perjalanan pelanggan yang lebih bermakna dan pada akhirnya mendorong perdagangan."

Temuan utama lain dari laporan ini meliputi:
* Marketplace tetap menjadi kanal penemuan utama (71% konsumen), diikuti oleh mesin pencari (57%).
* Adopsi AI generatif bervariasi di seluruh Asia Tenggara, dengan Vietnam (34%) dan Indonesia (31%) memimpin, sementara Singapura mencatat tingkat adopsi terendah (14%).
* AI generatif tidak mengubah ketergantungan konsumen pada kreator (40% responden), dengan kepercayaan yang terbagi merata antara AI dan kreator.
* Autentisitas dan validasi (49%) menjadi pendorong utama pembelian melalui tautan afiliasi, mengungguli diskon atau promosi.
* Pemasaran kemitraan yang semakin saling terhubung menuntut brand memiliki platform terpadu untuk mengukur kontribusi setiap mitra.