JAKARTAHYPE.COM - Selama lebih dari satu dekade, industri jam tangan didominasi oleh model berdiameter besar, dengan ukuran 42 mm hingga 44 mm dianggap sebagai standar maskulinitas dan pernyataan gaya yang kuat. Tren ini telah mengalami perubahan signifikan, menandakan siklus mode yang kembali berputar menuju estetika yang lebih proporsional.
Kini, jam tangan dengan diameter yang lebih kecil kembali mendapatkan tempat di hati para penggemar arloji, bukan sekadar karena nostalgia, melainkan didorong oleh pertimbangan estetika yang lebih seimbang. Beberapa produsen jam tangan ternama mulai merilis ulang seri andalan mereka dalam ukuran yang lebih ringkas, seperti 38 mm.
Salah satu contoh terbaru adalah peluncuran Tissot Gentleman dalam versi 38 mm yang baru-baru ini diperkenalkan kepada publik Indonesia di Senayan City, Jakarta. Peristiwa ini menjadi penanda nyata pergeseran preferensi pasar arloji saat ini.
Peran pasar Asia menjadi faktor krusial dalam menguatnya tren ukuran yang lebih kecil ini. Secara umum, ukuran pergelangan tangan rata-rata di kawasan Asia cenderung lebih kecil dibandingkan dengan pasar Barat, sehingga jam berdiameter besar sering kali tampak kurang proporsional saat dikenakan.
Di berbagai kota besar Asia seperti Jakarta, Tokyo, hingga Seoul, filosofi pemilihan jam tangan telah bergeser dari anggapan "besar terlihat mahal" menjadi penekanan pada "pas terlihat berkelas". Preferensi ini menunjukkan kedewasaan selera konsumen dalam memilih aksesori yang sesuai dengan postur tubuh.
Apa yang dilakukan Tissot melalui model Gentleman 38 mm bukan sekadar mengurangi ukuran diameter secara teknis semata. Hal ini melibatkan penyesuaian detail desain secara keseluruhan, termasuk menjaga keseimbangan proporsi dial, ketebalan casing, hingga detail indeks agar tetap harmonis.
Pendekatan ini mencerminkan filosofi gaya yang lebih luas, yaitu mengutamakan karakter tanpa perlu berlebihan dalam tampilan. Dalam materi resminya, Tissot mengartikan model ini sebagai interpretasi baru dari "everyday sophistication" atau kecanggihan sehari-hari yang mengikuti ritme pemakainya.
Terdapat ajakan implisit dalam tren 38 mm ini untuk kembali fokus pada hal-hal esensial dalam sebuah jam tangan, yaitu fungsi yang mumpuni, kenyamanan maksimal, dan estetika yang tahan lama melintasi waktu.
Pada akhirnya, tren jam tangan berukuran 38 mm ini mengisyaratkan bahwa arloji kembali menjadi objek yang sangat personal bagi pemakainya. Ukuran yang pas memperkuat pengalaman intim ini, membuat jam terasa menyatu dengan tubuh, bukan hanya sekadar aksesori eksternal.