JAKARTA, JakartaHype.com – Manipulasi gift card (kartu hadiah) secara diam-diam menggerus pendapatan peritel, bank, dan platform loyalitas di Indonesia seiring dengan meluasnya sektor pembayaran digital dan e-commerce. Praktik penipuan ini seringkali sulit terdeteksi karena meniru aktivitas transaksi pelanggan yang sah.

Zentara Technologies, perusahaan keamanan siber yang berbasis di Jakarta dan Singapura, menyoroti ancaman laten ini saat memaparkan temuannya di Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen.

Regal Star, CEO Zentara, menyatakan bahwa modus penipuan yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem.

“Fraud saat ini menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan masih berharap penipuan akan memicu alarm keamanan standar. Padahal, fraud pada gift card sulit dideteksi karena transaksinya terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari. Sistemnya tidak dibobol, sistem itu justru digunakan untuk melawan bisnis itu sendiri,” ujar Regal dalam konferensi tersebut.

Pertumbuhan Pasar dan Modus Baru

Para pelaku kejahatan kini mengeksploitasi seluruh siklus hidup kartu—mulai dari produksi, aktivasi, hingga penukaran—untuk melewati prosedur pembayaran yang sah. Contohnya, pelaku dapat mencuri detail kartu yang terpajang di rak ritel dan mengakses dananya segera setelah kartu diaktivasi oleh pembeli sah. Kerugian baru terlihat belakangan, seringkali melalui keluhan pelanggan atau anomali data yang terlewat.

Kondisi ini terjadi di tengah pesatnya pertumbuhan ekonomi digital Asia Tenggara. Menurut laporan e-Conomy SEA 2024 dari Google-Temasek-Bain, ekonomi digital kawasan tersebut telah mencapai GMV (Gross Merchandise Value) sebesar US$263 miliar pada 2024.

Evolusi Ancaman Digital

Darian Kuswanto, President dan Co-Founder Zentara Technologies, menekankan bahwa penipuan modern semakin mengeksploitasi proses bisnis dan perilaku manusia, bukan semata-mata kerentanan teknologi.