JAKARTAHYPE.COM - Kopi telah berevolusi menjadi minuman esensial dan bagian integral dari gaya hidup masyarakat di banyak belahan dunia. Namun, fenomena menarik muncul ketika beberapa negara yang dikenal sebagai penghasil biji kopi utama justru menunjukkan angka konsumsi domestik yang sangat rendah.

Hal ini menciptakan kontras signifikan antara peran mereka sebagai pemasok global dengan kebiasaan minum kopi warganya sendiri. Studi menunjukkan bahwa kebiasaan minum kopi bervariasi drastis antar negara, dipengaruhi oleh berbagai variabel sosio-ekonomi.

Beberapa negara yang menjadi produsen kopi terkemuka di dunia justru terdaftar dalam jajaran negara dengan tingkat konsumsi per kapita paling minim. Fenomena ini memerlukan analisis mendalam mengenai akar permasalahan di balik data konsumsi tersebut.

Faktor utama yang memengaruhi rendahnya konsumsi kopi di negara-negara tersebut sangat beragam. Salah satu penyebab utamanya adalah dominasi budaya minum teh yang sudah mengakar kuat secara historis dan turun-temurun.

Selain itu, orientasi ekonomi yang sangat kuat terhadap sektor ekspor juga menjadi pendorong rendahnya konsumsi domestik. Sebagian besar hasil panen kopi berkualitas tinggi diarahkan untuk memenuhi permintaan pasar internasional.

"Berbagai faktor memengaruhi rendahnya konsumsi kopi, mulai dari kuatnya budaya minum teh, tingginya orientasi ekspor, hingga harga kopi yang relatif mahal bagi masyarakat lokal," demikian temuan yang diutarakan oleh analis pasar komoditas.

Data terbaru menunjukkan bahwa ada beberapa negara spesifik yang berada di urutan terbawah dalam hal konsumsi kopi per individu. Negara-negara ini sering kali mengekspor biji kopi mereka dengan harga premium ke pasar luar negeri.

India dan Afrika Selatan, misalnya, termasuk dalam daftar negara yang secara mengejutkan memiliki tingkat konsumsi kopi per kapita yang tergolong sangat rendah meskipun keduanya merupakan pemain penting dalam rantai pasok kopi global.

"Seperti beberapa negara ini yang justru dikenal sebagai produsen kopi dunia," jelas seorang peneliti pertanian internasional mengenai ironi yang terjadi di negara-negara penghasil tersebut.