JAKARTAHYPE.COM - Otoritas kesehatan di Hong Kong telah mengeluarkan peringatan serius mengenai peningkatan risiko kesehatan publik yang dipicu oleh kombinasi dua faktor. Wilayah tersebut kini resmi memasuki periode musim flu musim panas, yang berbarengan dengan lonjakan signifikan kasus infeksi COVID-19 dalam beberapa pekan terakhir.

Kenaikan aktivitas penyakit pernapasan ini dikonfirmasi oleh Pusat Perlindungan Kesehatan Hong Kong. Kepala Cabang Penyakit Menular, Dr Albert Au Ka-wing, menyebutkan adanya peningkatan tajam dalam data pengawasan spesimen pernapasan yang mengindikasikan dimulainya periode infeksi musiman.

Periode puncak aktivitas flu musim panas ini diperkirakan akan berlangsung intens selama 8 hingga 12 minggu ke depan. Fokus utama periode ini diperkirakan terjadi sepanjang bulan Agustus dan September, menuntut kewaspadaan ekstra dari masyarakat.

Dr. Au memberikan rincian mengenai dominasi jenis virus yang beredar saat ini. "Sejauh ini, sekitar 60 persen kasus infeksi disebabkan oleh Influenza A subtipe H3. Namun, kami juga mengamati adanya paparan dari subtipe H1 dan Influenza B," ungkap Dr Au, Dikutip dari South China Morning Post.

Sayangnya, serangan flu musim panas ini mulai menunjukkan dampak serius dengan memakan korban jiwa dan memicu kasus infeksi berat. Hong Kong telah mencatat 23 kasus infeksi flu berat pada orang dewasa, di mana mayoritas (70 persen) menyerang lansia berusia 65 tahun ke atas.

Lebih lanjut, Dr. Au menyoroti bahwa 60 persen dari total pasien dewasa yang mengalami flu berat tersebut sama sekali belum menerima suntikan vaksinasi influenza. Situasi ini menggarisbawahi pentingnya cakupan vaksinasi pada kelompok rentan.

Infeksi serius tidak hanya menimpa lansia, tetapi juga kelompok anak-anak, termasuk kasus berat pada seorang anak laki-laki 12 tahun dengan komorbid, serta bocah 6 tahun yang sebelumnya sehat. Meskipun kedua anak tersebut telah divaksinasi akhir tahun lalu, hal ini memicu diskusi tentang durasi perlindungan vaksin.

"Vaksinasi menawarkan perlindungan terbaik dalam enam bulan pertama setelah penyuntikan, tetapi tingkat kekebalan tubuh dipastikan akan melemah secara bertahap seiring berjalannya waktu," jelas Dr. Au mengenai penurunan efektivitas vaksin seiring waktu.

Sementara itu, aktivitas virus COVID-19 di Hong Kong juga terus meningkat sejak bulan Mei. Angka sampel laboratorium yang dinyatakan positif COVID-19 melonjak drastis, dari semula di bawah 1 persen kini telah mencapai 6 persen.