JAKARTAHYPE.COM - Fenomena kecintaan terhadap rumah atau rasa betah (home attachment) dialami oleh banyak orang dengan intensitas berbeda. Ada individu yang merasa sangat antusias untuk segera meninggalkan rumah setelah rutinitas harian berakhir.

Sebaliknya, terdapat pula kelompok masyarakat yang justru merasakan kebahagiaan tertinggi saat mereka berhasil kembali ke ruang pribadi mereka. Kenyamanan ini menjadi titik akhir yang sangat dinantikan setiap hari.

Aktivitas sederhana seperti membaca buku, menghabiskan waktu berkualitas bersama anggota keluarga, atau menikmati ketenangan dalam kesendirian seringkali menjadi penentu utama mengapa rumah terasa begitu istimewa. Hal ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang mendalam terbentuk di dalamnya.

Lantas, apa sebenarnya yang mendorong seseorang membentuk koneksi emosional yang begitu kuat dengan tempat tinggalnya? Pertanyaan ini telah menjadi subjek penelitian akademis yang menarik perhatian para ilmuwan perilaku.

Sebuah studi terbaru memberikan perspektif baru mengenai fenomena psikologis ini. Penelitian tersebut difokuskan untuk mengidentifikasi variabel dominan yang memengaruhi tingkat kenyamanan seseorang di rumah.

Dilansir dari The Economic Times, temuan signifikan ini dipublikasikan dalam sebuah jurnal ilmiah bergengsi. Studi tersebut secara spesifik diterbitkan dalam Journal of Environmental Psychology pada tahun 2024.

Studi tersebut mengindikasikan bahwa rasa betah di rumah ternyata sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang dirasakan seseorang di dalam rumah, bukan semata-mata oleh kepribadiannya, ungkap hasil penelitian tersebut.

Artinya, interaksi dan suasana yang diciptakan dalam lingkungan rumah lebih berperan besar dalam menumbuhkan rasa nyaman dan keterikatan dibandingkan dengan sifat bawaan seseorang, menurut temuan studi tersebut.

Disclaimer: Artikel ini ditulis ulang secara otomatis oleh AI berdasarkan sumber Referensi: Health.detik. Kami menggunakan teknologi AI untuk menyajikan informasi ini kembali.