JAKARTAHYPE.COM - Cedera fisik menjadi momok yang mengintai, baik bagi atlet profesional maupun masyarakat umum yang rutin melakukan aktivitas kebugaran. Fenomena ini kerap memicu pertanyaan tentang langkah pencegahan yang paling efektif selama berolahraga.
Selama ini, anggapan umum yang beredar menyebutkan bahwa minimnya pemanasan adalah pemicu utama terjadinya cedera saat beraktivitas fisik. Namun, pandangan pakar kesehatan olahraga memberikan perspektif yang lebih mendalam mengenai isu ini.
Varnit Yadav, seorang pakar nutrisi, olahraga, dan kebugaran yang berbasis di Lucknow, menegaskan bahwa pemanasan merupakan elemen krusial dalam setiap sesi latihan. Tidak melakukan pemanasan secara memadai dapat meningkatkan probabilitas seseorang mengalami cedera olahraga.
Maudy Ayunda Bagikan Rahasia 'Self-Healing' Efektif Melalui Ritual Mandi dan Pelembap Tubuh
Dilansir dari laman Only My Health, Varnit Yadav menjelaskan fungsi penting dari sesi pemanasan awal. "Pemanasan mempersiapkan otot, meredakan ketegangan otot, dan mempersiapkan sistem saraf untuk upaya yang akan datang. Melewatkannya dapat meningkatkan risiko cedera dan mengurangi efisiensi proses latihan," ujarnya.
Proses pemanasan yang dilakukan secara bertahap bertujuan untuk meningkatkan elastisitas otot dengan mengatur aliran darah secara perlahan sebelum tubuh menerima beban latihan yang lebih intens. Meskipun demikian, pemanasan saja tidak menjamin seseorang akan terhindar sepenuhnya dari potensi cedera.
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr Andhika Raspati, SpKO, menekankan bahwa cedera bisa terjadi meskipun protokol pemanasan telah dipenuhi. Ia menjelaskan bahwa faktor utama cedera seringkali berkaitan dengan batas toleransi fisik tubuh seseorang.
Saat berbincang di acara detikSore beberapa waktu lalu, dr Dhika menyampaikan pandangannya mengenai asumsi keamanan pasca pemanasan. "Jangan kemudian berpikir bahwa kalau pemanasan gue bener, gue akan aman dari cedera, itu nggak," tegas dr Dhika.
Menurut dr Dhika, cedera dapat timbul ketika intensitas aktivitas fisik atau latihan yang dilakukan telah melampaui kapasitas maksimal jaringan yang dimiliki oleh tubuh. Ini menunjukkan pentingnya manajemen beban latihan yang tepat.
Selain jenis pemanasan, banyak praktisi kebugaran keliru dalam mengaplikasikan peregangan, di mana mereka memulai sesi dengan peregangan statis, padahal seharusnya dinamis. Dr Dhika menyarankan pendekatan yang berbeda untuk permulaan.