JAKARTAHYPE.COM - Selama ini, kaktus identik sebagai tanaman hias atau flora khas daerah gurun yang jarang dikonsumsi. Namun, kini tanaman ini mulai mendapatkan perhatian serius di Jepang sebagai komoditas pangan fungsional yang menjanjikan.

Di Jepang, petani kini mulai mengolah kaktus dari genus Opuntia, atau yang dikenal sebagai prickly pear cactus (kaktus pir berduri), menjadi berbagai hidangan inovatif. Menu tersebut bervariasi mulai dari quiche, pizza toast, sate, tempura, hingga mi dingin ala Tiongkok, menyasar konsumen yang kian sadar akan kesehatan.

Salah satu petani yang membudidayakan kaktus konsumsi di Jepang, Miki Deguchi, menyatakan optimisnya terhadap masa depan tanaman ini di negaranya. "Saya meyakini tanaman ini berpotensi menjadi salah satu bahan pangan yang umum dikonsumsi di negaranya," ujar Miki Deguchi.

Kaktus pir berduri ini sangat diminati karena dikenal kaya akan serat pangan, mineral, serta nutrisi penting lainnya yang bermanfaat bagi tubuh. Tanaman ini memiliki cita rasa yang ringan dan menyegarkan, bahkan memungkinkan untuk dikonsumsi dalam keadaan mentah tanpa perlu dimasak terlebih dahulu.

Secara nutrisi, satu cangkir (sekitar 149 gram) kaktus pir berduri mentah merupakan sumber serat pangan yang baik, mampu memenuhi sekitar 19 persen kebutuhan serat harian seseorang. Serat larut dan tidak larut yang terkandung di dalamnya berperan vital dalam menjaga kesehatan serta kelancaran sistem pencernaan.

Selain serat, kaktus ini juga menyediakan mineral penting seperti magnesium, kalium, dan kalsium yang berkontribusi menjaga kestabilan tekanan darah sehat. Vitamin C di dalamnya juga berperan penting dalam mendukung optimalisasi fungsi sistem kekebalan tubuh.

Label "superfood" disematkan karena adanya dukungan penelitian ilmiah, salah satunya yang dilakukan oleh Chubu University yang mendirikan pusat penelitian kaktus di Kota Kasugai, Prefektur Aichi, pada tahun 2024. Pusat studi ini dibentuk untuk mengembangkan potensi pemanfaatan kaktus, khususnya di sektor pangan.

Penelitian di pusat tersebut menunjukkan hasil menjanjikan pada tikus, di mana pemberian pakan mengandung bubuk kaktus pir berduri meningkatkan kadar mucin, protein pelapis usus yang menghalangi masuknya virus. "Saya yakin kaktus memiliki potensi besar sebagai pangan fungsional," ujar Mamoru Tanaka, profesor madya bidang pangan dan gizi di Chubu University yang terlibat dalam penelitian tersebut.

Secara tradisional, kaktus pir berduri juga telah lama digunakan untuk mendukung fungsi hati, yang kini mulai didukung oleh studi modern. Sifat antioksidan dan antiinflamasi pada buah kaktus ini diduga dapat melindungi hati dari stres oksidatif dan peradangan.