JAKARTAHYPE.COM - Perburuan satwa liar yang dilindungi kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah insiden tragis terjadi di wilayah Mesuji, Lampung. Peristiwa ini melibatkan pemanfaatan daging seekor tapir yang merupakan fauna endemik yang keberadaannya sangat dijaga oleh regulasi undang-undang.

Perburuan dan penyembelihan satwa langka tersebut sempat menarik perhatian luas setelah rekaman atau informasi mengenai keberadaan tapir di Jalan Lintas Timur Sumatera, tepatnya di area Register 45, Mesuji, menjadi viral di media sosial. Kejadian ini memicu reaksi keras dari berbagai pihak yang peduli terhadap konservasi fauna.

Kepolisian setempat bergerak cepat menanggapi laporan mengenai penangkapan dan pembunuhan hewan tapir tersebut. Tindakan tegas ini dilakukan sebagai upaya penegakan hukum terhadap pelanggaran konservasi sumber daya alam hayati.

Hingga saat ini, pihak kepolisian mengumumkan keberhasilan mereka dalam mengidentifikasi dan menangkap empat orang yang diduga terlibat aktif dalam aksi keji tersebut. Total pelaku yang diidentifikasi berjumlah enam orang, sehingga masih ada dua orang yang dalam pencarian.

Setelah berhasil ditangkap hidup-hidup, tapir malang tersebut dilaporkan langsung disembelih oleh para pelaku. Proses ini menunjukkan perencanaan dan kesengajaan dalam melakukan perburuan satwa yang seharusnya dilindungi.

Daging hasil penyembelihan tapir tersebut kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian. Tindakan selanjutnya yang dilakukan oleh para pelaku adalah membagikan hasil buruan tersebut kepada pihak lain yang terlibat dalam rantai konsumsi ilegal ini.

Sebagai penutup dari rangkaian perbuatan ilegal tersebut, daging tapir yang telah dibagi-bagi itu kemudian dimasak dan dikonsumsi oleh para pelaku. Daging tersebut diolah menjadi masakan yang dikenal sebagai rica-rica, sesuai dengan keterangan yang diperoleh dari hasil investigasi awal.

Kepolisian menegaskan komitmen mereka untuk menindak tegas segala bentuk perburuan liar terhadap fauna yang dilindungi Undang-Undang. Penangkapan empat pelaku ini merupakan langkah awal dalam mengungkap jaringan yang lebih besar terkait perdagangan dan konsumsi satwa langka di wilayah tersebut.

Dikutip dari berbagai sumber terkait, aksi pembunuhan tapir ini memperlihatkan betapa seriusnya ancaman perburuan liar yang masih terjadi, meskipun kesadaran akan pentingnya menjaga keanekaragaman hayati telah digaungkan secara masif.