JAKARTAHYPE.COM - Kesehatan usus memegang peranan krusial dalam menjaga fungsi tubuh secara keseluruhan, termasuk sistem kekebalan tubuh. Ketidakseimbangan mikrobioma usus yang berkelanjutan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko munculnya penyakit autoimun, menurut sejumlah penelitian.
Lebih lanjut, riset juga menunjukkan bahwa mikrobioma usus memiliki koneksi dengan sistem saraf pusat yang mengatur kinerja otak. Oleh karena itu, para pakar kesehatan menganjurkan untuk mengonsumsi makanan pendukung kesehatan usus sekaligus membatasi konsumsi minuman tertentu yang berpotensi mengganggu keseimbangan mikroba usus.
Konsumsi jenis minuman yang kurang tepat dapat mengganggu kesehatan usus karena umumnya mengandung gula tinggi, pemanis buatan, atau tingkat keasaman yang ekstrem. Bahan-bahan ini berisiko mengganggu keseimbangan mikrobioma dan proses pencernaan alami di dalam tubuh.
Meskipun demikian, pembatasan total tidak selalu diperlukan, karena sebagian besar minuman tersebut masih aman dikonsumsi dalam batas wajar tanpa menimbulkan efek samping signifikan. Reaksi tubuh terhadap minuman tertentu sangat individual dan cenderung lebih sering terjadi pada orang yang memiliki sensitivitas spesifik.
Apabila muncul keluhan pencernaan setelah mengonsumsi minuman tertentu, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi terkait. Ahli gizi Toby Amidor, MS, RD, CDN, FAND, menyoroti minuman dengan tambahan gula tinggi sebagai salah satu yang kurang ideal bagi kesehatan usus.
"Penelitian yang dipublikasikan pada 2020 menunjukkan pola makan tinggi gula dapat memicu peradangan dan mengganggu keseimbangan bakteri baik serta bakteri jahat di usus," ujar Toby Amidor. Kondisi ketidakseimbangan bakteri ini berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan.
Amidor juga mengingatkan untuk membatasi konsumsi minuman sari buah yang cenderung tinggi gula tambahan namun minim nutrisi penting. Sebagai gantinya, jika menginginkan rasa manis menyegarkan, disarankan memilih jus buah 100 persen tanpa tambahan gula.
"Minuman yang sebagian besar terdiri dari gula tambahan tanpa nilai gizi dapat mengubah keseimbangan mikrobioma usus sehingga bakteri jahat menjadi lebih dominan," jelas Toby Amidor. Ia menambahkan, "Jika ingin minum jus, pilihlah jus buah atau sayuran 100 persen karena tetap mengandung vitamin, mineral, dan fitonutrien."
Mengacu pada Permenkes Nomor 30 Tahun 2013, konsumsi gula harian di Indonesia dianjurkan tidak melebihi 10 persen dari total energi atau sekitar 4 sendok makan per hari (50 gram). Konsumsi gula berlebihan, terutama dari minuman berpemanis seperti teh kemasan dan soda, terbukti meningkatkan risiko obesitas dan diabetes melitus tipe 2.