Jakarta, JakartaHype.com - Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) dinilai memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan seseorang, baik dalam kehidupan pribadi maupun karier. Kemampuan ini bahkan kerap dianggap lebih berpengaruh dibandingkan kecerdasan intelektual (IQ) karena berkaitan erat dengan cara seseorang mengelola emosi dan menjalin hubungan dengan orang lain.

Psikolog bersertifikat lulusan Harvard, Dr. Cortney S. Warren, menjelaskan bahwa EQ merupakan kemampuan mengenali, memahami, serta mengevaluasi emosi diri sendiri maupun orang lain secara tepat. Menurutnya, orang yang memiliki kecerdasan emosional tinggi umumnya lebih mudah memahami lingkungan sekitar, mengendalikan emosinya, serta membangun hubungan yang sehat.

Berdasarkan pengalamannya sebagai psikolog, Warren mengungkapkan bahwa ada sejumlah kalimat yang sering diucapkan oleh orang dengan kecerdasan emosional rendah. Berikut enam di antaranya.

1. "Ini salahmu, aku jadi merasa seperti ini."

Ucapan ini mencerminkan kecenderungan menyalahkan orang lain atas emosi yang dirasakan. Padahal, setiap orang bertanggung jawab untuk mengelola emosinya sendiri, bukan menyerahkan tanggung jawab tersebut kepada orang lain.

Sebagai gantinya, Warren menyarankan untuk mengungkapkan perasaan secara lebih terbuka, misalnya dengan mengatakan, "Saat ini aku sedang sangat emosional. Begini pandanganku terhadap situasi ini."

2. "Kamu salah."

Orang dengan EQ rendah biasanya lebih mudah menghakimi daripada mencoba memahami sudut pandang orang lain. Saat menerima kritik atau masukan, mereka cenderung bersikap defensif dan mencari kesalahan lawan bicara.

Sebaliknya, Warren menyarankan untuk membuka ruang diskusi dengan kalimat seperti, "Aku ingin mendengar bagaimana pandanganmu mengenai hal ini."

3. "Perasaanmu tidak masuk akal."

Kurangnya empati juga menjadi salah satu ciri rendahnya kecerdasan emosional. Mereka sering kali menganggap emosi orang lain tidak beralasan hanya karena tidak mengalami situasi yang sama.

Menurut Warren, orang dengan EQ tinggi akan berusaha memahami alasan di balik perasaan tersebut. Kalimat yang lebih tepat misalnya, "Aku belum sepenuhnya memahami apa yang kamu rasakan. Bisakah kamu menceritakannya?"

4. "Aku tidak bisa memaafkanmu."

Sulit memaafkan merupakan tanda lain dari rendahnya kecerdasan emosional. Orang dengan karakter ini cenderung menyimpan amarah dan kesulitan melihat persoalan dari sudut pandang orang lain.

Warren menyarankan untuk mengungkapkan perasaan dengan lebih konstruktif, seperti, "Saat ini aku masih berusaha memaafkanmu. Aku ingin melepaskan rasa marah ini agar hubungan kita bisa menjadi lebih baik."

5. "Berhentilah bertingkah berlebihan!"

Kalimat ini menunjukkan kurangnya kemampuan memahami pengalaman emosional orang lain. Padahal, setiap individu memiliki cara yang berbeda dalam merespons suatu peristiwa.

Sikap yang lebih baik adalah mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau meremehkan perasaan orang lain.

6. "Aku tidak akan berubah. Inilah diriku."

Menurut Warren, orang dengan EQ rendah umumnya menolak perubahan dan enggan mengembangkan diri. Mereka cenderung mempertahankan pola pikir yang kaku serta sulit menerima masukan.

Padahal, kemampuan beradaptasi merupakan bagian penting dari kecerdasan emosional. Memiliki prinsip memang penting, tetapi tetap terbuka terhadap pengalaman baru akan membantu seseorang terus berkembang, baik dalam kehidupan pribadi maupun profesional.

Jika untuk kebutuhan media online, judul ini juga bisa dibuat lebih SEO-friendly, misalnya: "Psikolog Harvard Ungkap 6 Kalimat yang Menandakan Seseorang Punya EQ Rendah" atau "Sering Mengucapkan 6 Kalimat Ini? Bisa Jadi Tanda Kecerdasan Emosional Anda Masih Rendah."