JAKARTAHYPE.COM - Tepat pada 23 Juli 2026, Indonesia merayakan Hari Anak Nasional (HAN) ke-42. Momen ini menjadi pengingat akan pentingnya menciptakan lingkungan yang optimal, aman, nyaman, inklusif, sehat, dan bebas kekerasan bagi generasi penerus bangsa.
Tema HAN tahun ini, "Sayang Anak, Lindungi, dan Bangun Masa Depan," selaras dengan upaya perlindungan anak. Namun, peringatan ini dibayangi kekhawatiran serius terkait masa depan anak Indonesia yang menghadapi ancaman obesitas yang kian meluas.
Fenomena obesitas pada anak ini sebagian besar disebabkan oleh tingginya konsumsi produk kaya gula, garam, dan lemak (GGL). Produk-produk tersebut sangat mudah diakses, terjangkau, dan masif dipasarkan di seluruh penjuru negeri.
"Indonesia menempati posisi ketiga setelah Maldives dan Thailand dengan konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) di wilayah Asia Tenggara," demikian hasil penelitian Ferretti dan Mariani (2019) yang menjadi sorotan.
Konsumsi GGL berlebihan, terutama gula, terbukti meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi, diabetes melitus, dan penyakit jantung. Tingginya risiko ini kini merambah ke kalangan anak-anak secara mengkhawatirkan.
"Sebanyak 1 dari 5 anak usia sekolah (5-12 tahun) dan 1 dari 7 remaja (13-18 tahun) di Indonesia mengalami obesitas," ungkap studi Kementerian Kesehatan pada 2024, menunjukkan urgensi penanganan.
Lebih lanjut, studi tersebut juga mencatat bahwa hampir setengah anak Indonesia mengonsumsi minuman berpemanis setiap hari. Ironisnya, mayoritas anak belum memenuhi rekomendasi asupan buah dan sayur harian mereka.
"Berbagai PTM ini merupakan penyakit katastropik yang menyerap porsi besar anggaran pelayanan kesehatan," jelas laporan BPJS Kesehatan, menyoroti beban finansial yang ditimbulkan.
Penyakit katastropik ini menguras sekitar 26% anggaran Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), mencapai angka fantastis Rp 50,28 triliun setiap tahunnya. Beban ganda ini jelas mengancam kesehatan anak dan keberlanjutan keuangan negara.