JAKARTAHYPE.COM - Indonesia kini tengah menghadapi sebuah tantangan kesehatan yang mengkhawatirkan, yaitu 'silent cognitive burden'. Kondisi ini merujuk pada penurunan kapasitas neurokognitif anak yang terjadi secara bertahap, seringkali tanpa disadari oleh orang tua.

Gejala dari 'silent cognitive burden' ini cenderung samar dan mudah disalahartikan sebagai keluhan kesehatan umum lainnya. Hal ini membuat deteksi dini menjadi sulit, sehingga dampaknya bisa semakin meluas.

Sebuah catatan dari Indonesia Health Development Center (IHDC) mengidentifikasi setidaknya empat faktor utama yang berperan dalam munculnya kondisi ini di kalangan anak-anak.

Faktor krusial yang disorot adalah gangguan penglihatan. IHDC memperkirakan bahwa lebih dari 8 juta anak usia sekolah dasar, atau rentang usia 5 hingga 9 tahun, mengalami masalah pada indra penglihatan mereka.

Dampak gangguan penglihatan terhadap proses belajar anak sangatlah signifikan. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa sekitar 90 persen dari seluruh aktivitas belajar anak sangat bergantung pada input visual yang mereka terima.

"Indonesia dinilai tengah menghadapi ancaman 'silent cognitive burden', yakni kondisi ketika kapasitas neurokognitif anak menurun secara perlahan tanpa disadari orang tua," demikian disampaikan dalam analisis IHDC.

"Kondisi ini kerap luput dari perhatian karena gejalanya samar dan sulit dibedakan dengan keluhan kesehatan sehari-hari," sambung analisis tersebut.

"IHDC mencatat sedikitnya empat faktor utama yang berkontribusi terhadap kondisi tersebut," ungkap temuan IHDC.

"Faktor pertama adalah gangguan penglihatan," tegas IHDC dalam laporannya.