JAKARTAHYPE.COM - Fenomena peningkatan kasus gagal ginjal pada kelompok usia muda kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Kondisi yang sebelumnya identik dengan penuaan dini ini ternyata dapat dipicu oleh serangkaian kebiasaan sehari-hari yang sering dianggap remeh.

Kerusakan ginjal dapat terjadi secara progresif akibat akumulasi kebiasaan buruk yang dijalani secara rutin. Dokter spesialis penyakit dalam konsultan ginjal dan hipertensi, dr Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, menegaskan bahwa gaya hidup tidak sehat umumnya menjadi akar permasalahan utama pada kasus gagal ginjal usia muda.

"Umumnya tidak ada penyebab tunggal. Penyakit ini proses berjalannya lama tapi progresif," kata dr Tunggul mengenai sifat penyakit gagal ginjal yang berkembang lambat namun pasti.

Salah satu kebiasaan yang sangat disoroti adalah konsumsi makanan tinggi garam atau natrium, yang dapat meningkatkan tekanan darah dan secara langsung merusak ginjal. Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (PERNEFRI), dr Pringgodigdo Nugroho, SpPD-KGH, memberikan penekanan khusus pada budaya masyarakat Indonesia yang gemar mengonsumsi camilan asin.

"Ngemil makanan asin jelas mengandung garam yang tinggi. Garam itu meningkatkan hipertensi, kalau tidak terkendali itu risikonya (gagal ginjal, red) meningkat jadi harus dikurangi ya," kata dr Pringgo mengenai korelasi antara ngemil asin dan risiko hipertensi yang berujung gagal ginjal kronis.

Selain pola makan, gaya hidup sedentari atau kurang bergerak juga diidentifikasi sebagai faktor risiko signifikan. Kebiasaan 'mager' atau malas beraktivitas fisik dapat memicu kondisi penyerta seperti hipertensi dan diabetes, yang merupakan penyebab utama penyakit ginjal.

"Misal ke toko dekat rumah saja pakai kendaraan ya, jadi kurangnya aktivitas fisik itu bisa mengganggu fungsi ginjal," ucap dr Pringgo mencontohkan bagaimana minimnya aktivitas fisik mudah terjadi di lingkungan perkotaan.

Asupan air putih yang tidak memadai juga menjadi ancaman serius bagi organ vital ini, terutama saat berada di iklim panas. Kekurangan cairan secara bertahap dapat mengganggu fungsi ginjal, memicu infeksi berulang, bahkan pembentukan batu ginjal.

"Biasanya bertahap gejalanya dan melalui penyakit yang lain misalnya jadi risiko infeksi berulang karena kekurangan cairan, salurannya berisiko infeksi. Kemudian ada batu ginjal karena kekurangan cairan jadi zat-zat pembentuk batu tinggi sehingga terjadi batu ginjal itu melalui hal tersebut," ujar dr Pringgo menjelaskan mekanisme kerusakan akibat dehidrasi.