JAKARTAHYPE.COM - Tren global dalam modifikasi penampilan fisik terus berkembang pesat, termasuk munculnya prosedur bedah untuk mengubah warna iris mata secara permanen. Prosedur estetika ini menarik perhatian banyak pihak yang menginginkan perubahan warna mata sesuai preferensi pribadi mereka.
Teknik yang dimaksud dikenal dengan akronim FLAAK, yang merupakan singkatan dari Femtosecond Laser-Assisted Annular Keratopigmentation. Prosedur ini memungkinkan pasien untuk mengubah warna bola mata mereka menjadi biru, emas, hijau, atau spektrum warna lain yang diinginkan.
Namun, di balik daya tarik visual yang ditawarkan oleh hasil estetika FLAAK, muncul kekhawatiran serius dari komunitas medis mengenai konsekuensi jangka panjangnya. Para ahli kesehatan mata kini secara aktif mengeluarkan peringatan keras terkait potensi bahaya prosedur ini.
Prosedur FLAAK sendiri dikembangkan kurang lebih satu dekade yang lalu oleh seorang dokter spesialis mata terkemuka asal Prancis. Dokter tersebut adalah Francis Ferrari, yang mempelopori teknik modifikasi warna iris menggunakan laser ini.
"Prosedur estetika ini menawarkan opsi mengubah warna iris menjadi biru, emas, hijau, atau warna lain sesuai keinginan pasien," ujar seorang sumber yang membahas perkembangan tren ini.
Dilansir dari TREN.BISNISMARKET.COM, pengembangan teknik ini bertujuan memberikan alternatif kosmetik, namun fokus kini beralih pada evaluasi keamanan prosedur tersebut seiring waktu.
Para spesialis mata menekankan bahwa meskipun hasilnya terlihat memuaskan pada awalnya, risiko kesehatan mata jangka panjang harus menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan untuk menjalani FLAAK.
"Di balik daya tarik hasil estetika yang ditawarkan, para ahli kesehatan mata telah mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi risiko jangka panjang dari prosedur ini," kata seorang pakar kesehatan mata dalam analisis mengenai tren ini.
Pengembangan teknik FLAAK oleh Dr. Francis Ferrari lebih dari sepuluh tahun lalu menandai sebuah kemajuan dalam bedah kosmetik mata. Meskipun demikian, pengawasan medis terhadap dampak jangka panjang tetap menjadi prioritas utama.