Jakarta, JakartaHype.com - Angka obesitas terus menjadi tantangan kesehatan serius di Indonesia. Namun, masyarakat diminta tidak hanya terpaku pada timbangan berat badan. Pakar Gizi Universitas Gadjah Mada (UGM), Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, mengingatkan adanya ancaman obesitas sentral atau penumpukan lemak di area perut yang memiliki risiko kesehatan jauh lebih fatal.

Menurut Dr. Mirza, standar Indeks Massa Tubuh (IMT) yang selama ini digunakan (normal di angka 18–23) memang bisa mendeteksi obesitas umum, namun tidak mampu memotret lokasi persebaran lemak.

"Penilaian obesitas sentral tidak cukup hanya menggunakan IMT. Lingkar perut di atas 90 cm menjadi indikator penting," jelasnya dalam keterangan tertulis pada Rabu (17/12).

Ancaman Sindrom Metabolik

Mengapa lemak perut begitu diwaspadai? Dr. Mirza menjelaskan bahwa obesitas sentral merupakan pintu masuk utama menuju sindrom metabolik. Penumpukan lemak di perut memicu ketidaknormalan kolesterol, lonjakan gula darah, hingga tekanan darah tinggi.

Jika dibiarkan, kondisi ini akan berkembang menjadi penyakit tidak menular (PTM) yang mematikan, seperti jantung koroner, hipertensi, dan diabetes melitus. "Kalau biokimia di dalam darah sudah bermasalah, risikonya adalah kematian," tegas Dr. Mirza.

Faktor Hormonal dan Pergeseran Usia

Secara biologis, laki-laki lebih rentan mengalami perut buncit karena tidak memiliki hormon estrogen yang berfungsi menyebarkan lemak ke bagian tubuh lain seperti paha atau pinggul. Sementara pada perempuan, risiko ini biasanya baru meningkat drastis saat memasuki usia di atas 40 tahun akibat perubahan hormon.

Meski demikian, Dr. Mirza menyoroti tren obesitas sentral yang kini mulai menyerang usia muda. Hal ini dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, yakni minimnya aktivitas fisik serta tingginya konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL).