JAKARTAHYPE.COM - Keterbatasan ketersediaan organ donor menjadi tantangan global yang tak kunjung usai dalam dunia medis. Menjawab urgensi ini, para ilmuwan terus berinovasi dengan mengembangkan teknologi transplantasi organ dari hewan ke tubuh manusia, sebuah praktik yang dikenal sebagai xenotransplantasi.

Babi dipilih sebagai salah satu hewan utama dalam penelitian ini karena sejumlah karakteristiknya yang dianggap potensial untuk memenuhi kebutuhan transplantasi. Upaya para peneliti dan ahli bedah untuk mewujudkan xenotransplantasi yang layak telah berlangsung selama beberapa dekade, dengan tujuan mulia menyelamatkan lebih banyak nyawa dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Menurut jurnal Animal Organs for Human Transplantation yang ditulis oleh Marlon F. Levy, MD, pemilihan hewan sebagai donor organ mempertimbangkan berbagai kriteria penting. Kriteria ini mencakup kesamaan fisiologis, ukuran organ, masa gestasi, dan potensi penolakan imunologis.

Meskipun demikian, Marlon F. Levy, MD, menyatakan bahwa hingga kini belum ada hewan yang sepenuhnya memenuhi semua kriteria ideal tersebut. Namun, babi telah menjadi fokus utama dan organ dari hewan ini telah diujikan pada manusia dalam berbagai kasus yang menarik perhatian dunia medis.

Kasus pertama yang mencatat sejarah adalah transplantasi jantung babi hasil rekayasa genetika pada David Bennett di Amerika Serikat pada 7 Januari 2022. Operasi ini merupakan upaya terakhir untuk menyelamatkan nyawanya, meskipun probabilitas kelangsungan hidup jangka panjangnya belum sepenuhnya diketahui.

"Pilihannya hanya mati atau melakukan transplantasi ini," ujar David Bennett sehari sebelum operasi, menunjukkan betapa beratnya keputusan yang harus diambil. Ia menambahkan, "Saya tahu ini seperti mencoba sesuatu tanpa kepastian, tapi ini pilihan terakhir saya."

Jantung babi yang ditransplantasikan telah dimodifikasi secara genetik untuk menonaktifkan gen-gen yang berpotensi memicu penolakan oleh tubuh Bennett. Selama beberapa minggu pascaoperasi, jantung tersebut dilaporkan berfungsi baik tanpa adanya penolakan dari tubuh penerima.

Namun, nasib berkata lain, David Bennett mengalami kegagalan fungsi jantung beberapa minggu kemudian dan meninggal dunia dua bulan setelah transplantasi, tepatnya pada 8 Maret 2022. Peristiwa ini menjadi pembelajaran penting bagi para peneliti mengenai tantangan xenotransplantasi.

Kemudian, pada 20 September 2023, transplantasi jantung babi kedua dilakukan kepada Lawrence Faucette, seorang pasien dengan penyakit jantung stadium akhir. Sayangnya, setelah hampir enam minggu menerima organ tersebut, Faucette meninggal dunia pada 30 Oktober 2023.