JAKARTAHYPE.COM - Sebuah fenomena baru bernama "performative male" tengah menjadi perbincangan hangat di jagat maya, khususnya di platform media sosial TikTok. Istilah ini merujuk pada perilaku sebagian laki-laki yang dianggap sengaja menampilkan sifat, hobi, dan gaya berpakaian yang identik dengan budaya perempuan atau gaya "soft boy".
Tujuan utama di balik penampilan tersebut, menurut berbagai pengamatan, adalah untuk membangun citra diri yang lebih sensitif dan peka secara emosional di mata publik. Hal ini menjadi sorotan karena dianggap sebagai bentuk pencitraan yang belum tentu mencerminkan kepribadian asli.
Beberapa contoh perilaku yang diasosiasikan dengan "performative male" meliputi kebiasaan menikmati minuman seperti matcha, menggemari musik K-pop, membawa tas jinjing (tote bag), hingga membaca buku-buku dengan tema yang kerap diasosiasikan dengan perempuan.
Namun, penting untuk digarisbawahi bahwa seseorang tidak serta-merta disebut "performative male" apabila memang memiliki ketertarikan tulus terhadap hal-hal tersebut. Julukan ini lebih ditujukan kepada individu yang terkesan berpura-pura atau memaksakan diri demi membangun citra tertentu.
Istilah ini seringkali muncul dalam konteks candaan atau sindiran. Sasaran sindirannya adalah laki-laki yang dianggap rela mengubah total penampilan dan kepribadiannya demi menarik perhatian lawan jenis, atau mereka yang dinilai terlalu larut dalam tren media sosial hingga kesulitan menemukan jati diri yang otentik.
Penelitian mengenai perilaku generasi muda di media sosial menunjukkan bahwa autentisitas menjadi nilai utama yang sangat dihargai. Berbeda dengan generasi milenial yang identik dengan kurasi citra diri melalui foto yang diedit, Gen Z justru lebih mengutamakan kesan apa adanya dan spontanitas.
Studi-studi yang mendalami budaya TikTok menemukan bahwa konten yang jujur, emosional, dan minim polesan lebih disukai. Dalam kerangka ini, sosok "performative male" sering kali dianggap terlalu berupaya menampilkan ketulusan yang dibuat-buat. Kebiasaan seperti minum matcha atau menggunakan tote bag dipandang sekadar tren gaya hidup, bukan refleksi nilai atau karakter mendalam.
Psikolog Klinis Ghina Sakiah Safari menjelaskan bahwa fenomena "performative male" tidak termasuk dalam kategori gangguan psikologis, melainkan lebih kepada sebuah kecenderungan sosial. "Hal itu dilakukan memang bertujuan memperoleh validasi atau status melalui persepsi orang lain. Strategi ini sendiri secara budaya bukan hal yang abnormal," ujar Ghina Sakiah Safari ketika dihubungi detikcom beberapa waktu lalu.
Menurut Ghina Sakiah Safari, penyesuaian diri demi penerimaan sosial bukanlah hal baru dalam sejarah manusia. Namun, kemunculan media sosial kini membuat bentuk penyesuaian tersebut menjadi lebih kasat mata dan mudah diamati oleh publik.