JAKARTAHYPE.COM - Tren olahraga lari maraton kini semakin digemari masyarakat Indonesia sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Aktivitas fisik intensif ini memang menunjukkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebugaran tubuh.
Namun, di balik tren positif tersebut, terdapat potensi risiko serius yang mengintai para pelari, terutama jika mereka mengabaikan batas kemampuan fisik mereka.
Belakangan ini, sebuah kasus viral di media sosial menyoroti bahaya ini, di mana seorang pelari harus dilarikan ke rumah sakit dan menjalani prosedur cuci darah. Kondisi ini terjadi akibat gangguan serius pada fungsi ginjal yang dialaminya.
Kondisi medis yang dikaitkan dengan insiden tersebut adalah Rhabdomyolysis, sebuah kondisi berbahaya yang melibatkan kerusakan parah pada sel-sel otot tubuh. Kerusakan otot yang masif ini kemudian memberikan beban berlebih pada organ vital, yaitu ginjal.
Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH, memberikan pandangan mengenai bagaimana risiko seperti Rhabdomyolysis saat melakukan olahraga ekstrem sebenarnya dapat dicegah. Pencegahan ini sangat bergantung pada pemahaman pelari terhadap sinyal tubuh mereka.
Salah satu gejala paling umum yang harus segera diwaspadai oleh setiap pelari adalah munculnya rasa lelah yang sangat akut atau ekstrem. Rasa lelah yang tidak wajar ini seharusnya menjadi pertanda utama untuk segera menghentikan aktivitas.
"Salah satu sinyal yang wajib dikenali, paling umum adalah munculnya rasa lelah akut dan ini harusnya menjadi alarm yang harus diperhatikan," ungkap dr. Tunggul Situmorang, SpPD-KGH.
Perlu dipahami bahwa Rhabdomyolysis terjadi ketika otot yang rusak melepaskan zat-zat berbahaya ke dalam aliran darah, yang kemudian disaring oleh ginjal dan berpotensi menyebabkan kerusakan permanen.
Dilansir dari berbagai sumber pemberitaan, kasus seperti ini menjadi pengingat penting bahwa pemahaman mengenai batas fisik dan persiapan yang memadai adalah kunci dalam mengikuti kegiatan olahraga ketahanan.