JAKARTAHYPE.COM - Banyak konsumen kini mendapati diri mereka tanpa sengaja melakukan pembelian produk kecantikan, seperti lip tint atau serum, setelah hanya berniat menonton beberapa menit pembaruan di TikTok. Pengalaman ini semakin umum terjadi seiring dengan pergeseran perilaku belanja masyarakat.
Dahulu, toko fisik dan e-commerce menjadi kanal utama transaksi, namun kini livestream atau siaran langsung telah muncul sebagai salah satu metode penjualan paling menjanjikan bagi merek kosmetik dan perawatan kulit. Hal ini didukung oleh studi yang memprediksi livestream akan menjadi kekuatan besar dalam membentuk masa depan belanja produk kecantikan.
Menurut studi State of Beauty 2026 dari McKinsey & Company, format livestream dinilai sangat efektif karena berhasil mengintegrasikan aspek hiburan, ulasan produk, dan proses belanja dalam satu pengalaman yang praktis dan interaktif. Oleh karena itu, banyak merek kecantikan kini secara agresif memanfaatkan kanal livestream untuk memperluas jangkauan konsumen mereka.
Berbeda dengan iklan statis, livestream memberikan kesempatan bagi para beauty enthusiast untuk menyaksikan demonstrasi produk secara langsung, mengajukan pertanyaan secara real-time, serta memperoleh penawaran eksklusif selama siaran berlangsung.
Platform TikTok secara signifikan mendominasi tren belanja melalui siaran langsung ini, bahkan dilaporkan menjadi retailer kecantikan dengan pertumbuhan tercepat, khususnya di wilayah Amerika Serikat.
Data menunjukkan bahwa penjualan produk kecantikan di platform berbasis video tersebut telah meningkat sebesar 260% per tahun sejak tahun 2023, di mana sekitar 22% dari penjualan tersebut berasal dari fitur livestream. Angka ini mengindikasikan kenyamanan konsumen yang semakin tinggi dalam berbelanja sambil mengonsumsi konten.
McKinsey menyoroti bahwa fokus merek di TikTok kini bukan lagi hanya mendorong pembelian ulang produk yang sudah dikenal. Perusahaan berlomba menarik perhatian konsumen baru melalui konten yang kreatif dan berpotensi viral.
"Di TikTok, penemuan produk dalam skala besar kini menjadi fokus yang sama pentingnya bagi brand dibandingkan pembelian ulang produk," tulis studi tersebut, sebagaimana dikutip dari Fashionista.
Studi tersebut juga menambahkan bahwa faktor-faktor seperti narasi yang dibawakan oleh kreator, produk yang menjadi viral, serta konten yang memungkinkan pembelian langsung sangat memengaruhi merek mana yang pertama kali ditemukan dan dicoba oleh konsumen.