JAKARTAHYPE.COM - Fenomena olahraga lari jarak jauh, khususnya maraton, semakin populer di kalangan masyarakat urban di Indonesia, bertransformasi dari sekadar aktivitas fisik menjadi bagian integral dari gaya hidup modern.

Namun, peningkatan popularitas ini sayangnya belum selalu diimbangi dengan peningkatan literasi medis yang memadai di kalangan para penggemar olahraga lari.

Banyak peserta, terutama pelari pemula, sering kali mengandalkan semangat dan tekad kuat sebagai modal utama untuk menaklukkan jarak 42 kilometer.

Padahal, persiapan yang hanya mengandalkan mental saja sangat rentan memicu masalah kesehatan serius jika tubuh dipaksa melebihi batas kemampuannya.

Ketidaksiapan fisik dan kurangnya pemahaman medis bisa menjadi faktor pemicu munculnya kondisi patologis yang membahayakan nyawa para pelari.

Salah satu komplikasi paling mengancam yang dapat menghantui para atlet lari jarak jauh adalah kerusakan otot ekstrem yang dikenal secara medis sebagai rhabdomyolysis.

"Banyak pelari pemula yang menganggap bahwa modal utama untuk menyelesaikan lintasan 42 kilometer hanyalah tekad yang kuat dan mental pantang menyerah," tulis artikel tersebut, menyoroti kesalahpahaman umum di kalangan komunitas lari.

Memaksakan tubuh melewati batas kemampuan wajar saat mengikuti ajang maraton, tanpa melalui proses adaptasi dan persiapan yang matang, dapat membawa konsekuensi yang fatal bagi kesehatan.

Kondisi rhabdomyolysis sendiri merupakan kondisi serius di mana serat otot rusak parah dan melepaskan isinya ke dalam aliran darah, berpotensi merusak ginjal.