JAKARTAHYPE.COM - Sektor perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menunjukkan geliat positif signifikan seiring dengan momentum libur sekolah tahun 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa tingkat okupansi hotel di wilayah tersebut berhasil mencapai angka rata-rata 70 persen selama periode liburan ini.
Namun, di balik tingginya angka hunian tersebut, para pelaku usaha di industri perhotelan dilaporkan masih belum dapat sepenuhnya merasa lega. Terdapat isu substansial terkait kenaikan biaya operasional yang dikhawatirkan menghambat pemulihan pendapatan secara menyeluruh.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Pranowo, menjadi salah satu pihak yang menyoroti isu sensitif ini. Ia menggarisbawahi bahwa peningkatan jumlah tamu belum sepenuhnya berbanding lurus dengan profitabilitas yang diharapkan.
Deddy Pranowo menjelaskan mengenai rentang waktu peningkatan signifikan dalam reservasi kamar hotel yang terjadi baru-baru ini. Periode spesifik dari tanggal 17 hingga 25 Juni 2026 menunjukkan adanya lonjakan yang cukup menarik perhatian sektor pariwisata.
Menurutnya, peningkatan okupansi hotel selama periode tersebut tercatat mencapai sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan rata-rata okupansi pada hari-hari biasa sebelumnya. Angka ini juga menunjukkan perbaikan dibandingkan dengan periode liburan sekolah yang sama pada tahun sebelumnya.
"Kalau reservasi, data kita dari 17 Juni sampai dengan 25 Juni itu rata-rata 70 persen. Baik hotel bintang maupun nonbintang anggota kami di DIY," kata Deddy Pranowo saat dihubungi oleh media.
Ia menambahkan bahwa secara geografis, wilayah yang paling banyak menyumbang tingkat hunian tinggi masih terpusat di area-area utama. Dominasi kunjungan wisatawan tersebut terbagi antara pusat Kota Yogyakarta dan wilayah Kabupaten Sleman.
"Masih didominasi wilayah tengah kota (Kota Jogja) dan juga Sleman," ujar Deddy Pranowo.
Meskipun demikian, optimisme yang muncul dari tingginya angka hunian tersebut harus diimbangi dengan kewaspadaan. Lonjakan biaya operasional menjadi momok yang membuat pengusaha hotel belum bisa bernapas lega sepenuhnya.