JAKARTAHYPE.COM - Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) terus menjadi perhatian serius dalam perekonomian nasional belakangan ini. Mata uang Garuda tercatat menembus level psikologis yang signifikan, menciptakan tekanan baru bagi stabilitas ekonomi makro Indonesia.

Faktor utama yang disinyalir menjadi pemicu pelemahan ini adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Eskalasi konflik tersebut meningkatkan ketidakpastian global dan mendorong investor untuk mencari aset yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti Dolar AS.

Selain isu Timur Tengah, arah kebijakan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed), memegang peranan krusial. Sinyal mengenai kemungkinan penundaan penurunan suku bunga The Fed memiliki dampak langsung pada pergerakan modal global.

Dikutip dari Kontan, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa pelemahan Rupiah terjadi karena adanya tiga faktor utama yang saling berkaitan. Faktor-faktor tersebut berasal dari domestik, global, dan juga dampak dari kebijakan The Fed.

"Faktor-faktor tersebut antara lain adalah ketidakpastian global yang meningkat, kemudian pengaruh dari kebijakan suku bunga The Fed yang masih tinggi, dan tentu saja faktor domestik," ujar Perry Warjiyo.

Perry Warjiyo juga menjelaskan bahwa ketidakpastian global yang dimaksud utamanya bersumber dari dampak eskalasi geopolitik di Timur Tengah. Situasi ini secara alami mendorong aliran dana keluar dari pasar berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman.

Lebih lanjut, Perry Warjiyo menekankan bahwa kebijakan The Fed memengaruhi persepsi risiko investor terhadap mata uang negara berkembang. "Kami melihat bahwa arah kebijakan The Fed yang masih menahan diri untuk menurunkan suku bunga, membuat Dolar AS tetap kuat secara global," kata beliau.

Penundaan penurunan suku bunga The Fed membuat imbal hasil obligasi negara maju menjadi lebih menarik dibandingkan instrumen di negara berkembang seperti Indonesia. Hal ini secara otomatis meningkatkan permintaan terhadap Dolar AS, sehingga menekan nilai tukar Rupiah.

Dikutip dari Kontan, Perry Warjiyo menegaskan bahwa Bank Indonesia terus melakukan langkah-langkah strategis untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah. Intervensi pasar valuta asing merupakan salah satu instrumen yang digunakan untuk meredam volatilitas yang terjadi.