JAKARTAHYPE.COM - Kasus pembunuhan keji yang dilakukan Taylor Parker kembali menarik perhatian publik setelah kisahnya diangkat dalam serial dokumenter terbaru Netflix berjudul Maternal Instinct. Wanita yang telah divonis hukuman mati ini ternyata sempat menyampaikan keluhan-keluhan minor selama menjalani proses hukum.
Salah satu keluhan yang sempat ia sampaikan adalah ketidakpuasannya karena tidak diizinkan menggunakan riasan wajah (makeup) saat menghadiri sesi persidangan. Hal ini terungkap melalui rekaman percakapan teleponnya dari balik jeruji besi.
Taylor Parker dinyatakan bersalah atas pembunuhan berencana terhadap sahabatnya sendiri, Reagan Simmons-Hancock, yang saat itu sedang hamil 21 tahun. Peristiwa mengerikan ini terjadi pada Oktober 2020, ketika Parker menyerang Reagan dengan palu dan menikamnya lebih dari seratus kali.
Setelah melakukan pembunuhan, Parker kemudian melakukan tindakan nekat dengan melakukan operasi caesar menggunakan pisau bedah untuk mengambil bayi yang masih berada dalam kandungan korban. Bayi perempuan yang kemudian diberi nama Braxlynn Sage itu sempat dibawa kabur oleh Parker.
Parker sempat berpura-pura baru melahirkan di pinggir jalan sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan darurat. Sayangnya, nyawa bayi Braxlynn Sage tidak dapat diselamatkan, dan Parker akhirnya ditangkap serta dijatuhi hukuman mati atas perbuatannya.
Meskipun dokumenter Netflix lebih menyoroti kesaksian dari keluarga korban dan mantan kekasih Parker, Wade Griffin, rekaman percakapan telepon dari penjara mengungkapkan sisi lain dari karakter terpidana. Parker ditahan di Penjara Bowie County, Texas, sejak ditangkap pada 9 Oktober 2020.
Dalam panggilan telepon rutinnya kepada sang ibu, Shona Prior, terungkap beberapa percakapan yang menunjukkan kurangnya penyesalan mendalam dari Parker. Wanita berusia 33 tahun itu sempat mengeluhkan perlakuan yang ia terima selama proses persidangan berlangsung.
Dilansir dari rekaman yang digunakan jaksa di persidangan, terungkap bahwa Parker sempat membahas soal riasan wajah dengan ibunya. Shona Prior menyampaikan kekhawatiran bahwa pihak berwenang sengaja ingin membuat putrinya terlihat buruk di hadapan juri.
"Mereka ingin kamu terlihat seperti kriminal tunawisma. Mereka tidak ingin kamu terlihat seperti manusia karena itu akan menguntungkanmu," ujar Shona Prior kepada putrinya mengenai upaya pihak berwenang dalam persidangan.