JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan pesat teknologi Artificial Intelligence (AI) memang membawa efisiensi besar dalam berbagai sektor, namun di sisi lain, muncul pula potensi risiko signifikan yang perlu diwaspadai oleh seluruh pemangku kepentingan. Salah satu ancaman paling nyata yang mengintai adalah potensi terjadinya kebocoran data berskala besar.
Risiko kebocoran data ini menjadi semakin mengkhawatirkan jika pemanfaatan AI di Indonesia tidak dilakukan secara inklusif dan dibarengi dengan penguatan sistem keamanan siber. Hal ini disampaikan dalam sebuah forum teknologi penting yang diselenggarakan baru-baru ini.
Permasalahan keamanan siber ini diangkat langsung oleh Direktur Jenderal Ekosistem Digital, Edwin Hidayat Abdullah, sebagai salah satu fokus utama dalam pengembangan teknologi masa depan. Menurutnya, implementasi tanpa fondasi keamanan yang kuat akan membuka celah kerentanan yang berbahaya.
"Jadi kalau Indonesia tidak inklusif memanfaatkan AI itu menciptakan bahaya, tapi kalau tidak disertai dengan cybersecurity yang baik itu juga berbahaya," jelas Edwin Hidayat Abdullah saat berbicara dalam acara Tech & Telco Forum 2026, pada hari Rabu, 6 Mei 2026.
Dalam forum yang sama, Edwin memaparkan langkah-langkah proaktif yang sedang diupayakan oleh pemerintah untuk mengakselerasi pengembangan teknologi AI di Tanah Air. Upaya ini mencakup pendirian pusat inovasi dan penyusunan regulasi yang mendukung investasi.
Pemerintah berupaya menciptakan iklim yang kondusif bagi para pelaku industri dan inovator yang ingin berinvestasi dalam pengembangan AI di Indonesia. Selain infrastruktur regulasi, pemerintah juga menekankan pentingnya pengembangan sumber daya manusia yang kompeten.
Edwin juga menyoroti aspek krusial lainnya, yaitu kebutuhan mendesak akan talenta digital yang memiliki kompetensi mumpuni untuk mengelola dan mengamankan teknologi AI. Ketersediaan talenta menjadi penentu keberhasilan adopsi teknologi ini.
Lembaga Komdigi sendiri telah meluncurkan beberapa program strategis untuk meningkatkan kapabilitas sumber daya manusia, seperti program AI Talent Factory dan Digital Spark Innovation Hub. Program-program ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan kompetensi di lapangan.
"Kita juga punya yang namanya Digital Spark Innovation Hub itu untuk center of innovation. Kita buat di 20 kota di Indonesia. dari 514 kabupaten/kota akan kita establish," kata Edwin Hidayat Abdullah.