JAKARTAHYPE.COM - Sebuah studi terbaru mengenai kepuasan karier pasca-kelulusan telah memicu diskusi hangat di kalangan akademisi dan profesional muda. Hasil survei menunjukkan adanya korelasi antara pilihan jurusan kuliah dan tingkat penyesalan yang dirasakan oleh para alumni.

Temuan mengejutkan dari survei tersebut menempatkan jurusan Jurnalisme pada urutan pertama sebagai program studi yang paling sering disesali oleh para lulusannya. Hal ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara ekspektasi studi dan realitas tantangan di dunia kerja profesional.

Survei ini dilakukan untuk memetakan persepsi lulusan mengenai relevansi pendidikan tinggi mereka dengan kebutuhan pasar tenaga kerja saat ini. Tujuannya adalah memberikan masukan berharga bagi calon mahasiswa dalam menentukan jalur pendidikan selanjutnya.

Secara spesifik, hasil survei menyoroti bahwa lulusan Jurnalisme sering kali merasa bahwa kurikulum yang mereka jalani tidak sepenuhnya membekali mereka menghadapi dinamika industri media modern. Mereka menyoroti isu perubahan lanskap media digital yang cepat.

Dilansir dari sumber survei, penyesalan ini tidak hanya terbatas pada Jurnalisme saja, melainkan juga meliputi beberapa program studi lain yang berada di peringkat bawah dalam hal kepuasan karier. Beberapa di antaranya adalah jurusan yang dianggap memiliki prospek kerja yang semakin terbatas.

Salah satu narasumber dalam studi tersebut memberikan pandangannya mengenai temuan ini. "Kami melihat bahwa jurusan-jurusan yang sangat spesifik dan kurang fleksibel cenderung menghasilkan tingkat penyesalan yang lebih tinggi di kalangan lulusan," ujar Dr. Rina Sari, Peneliti Utama Studi Kepuasan Karier.

Dr. Rina Sari menambahkan bahwa fleksibilitas dan kemampuan adaptasi menjadi kunci utama dalam kepuasan kerja lulusan masa kini. "Para lulusan semakin menyadari pentingnya keterampilan lintas disiplin yang tidak selalu ditekankan dalam program studi tradisional," katanya.

Lebih lanjut, studi ini juga menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan penyesalan tersebut, di mana gaji yang tidak sesuai ekspektasi dan persaingan kerja yang ketat menjadi kontributor signifikan. Hal ini menunjukkan perlunya peninjauan kembali orientasi karier dalam pendidikan tinggi.

"Jurusan Jurnalisme menempati posisi teratas karena adanya disrupsi besar dalam industri media yang menuntut keterampilan baru seperti analisis data dan produksi konten multimedia yang mendalam," kata seorang analis pendidikan yang tidak ingin disebutkan namanya.