JAKARTAHYPE.COM - Banyak individu mendambakan transformasi tubuh instan, berharap timbangan menunjukkan angka yang jauh lebih rendah hanya dalam waktu seminggu. Namun, para spesialis kesehatan telah memberikan peringatan keras mengenai bahaya yang mengintai di balik penurunan berat badan yang terlalu drastis dan cepat.

Dilansir dari Lifestyle, standar aman untuk mengurangi bobot tubuh menurut data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) adalah sekitar 0,5 hingga 1 kilogram setiap minggunya. Angka ini dianggap lebih realistis dan berkelanjutan dibandingkan metode diet ekstrem yang menjanjikan hasil kilat.

Lauren Slayton, pendiri Foodtrainers di New York, menekankan bahwa pendekatan pemangkasan berat badan yang terlalu agresif justru dapat menjebak seseorang dalam siklus kebiasaan makan yang tidak sehat.

"Kami tidak menyarankan olahraga berlebihan, penggunaan pencahar, menghitung kalori secara ekstrem, atau melewatkan makan hingga membuat tubuh merasa buruk," ujar Lauren Slayton mengenai praktik yang harus dihindari dalam menurunkan berat badan.

Secara ilmiah, penurunan berat badan terjadi ketika tubuh membakar energi melebihi asupan kalori harian. Diperkirakan, akumulasi defisit 3.500 kalori setara dengan hilangnya sekitar 0,45 kilogram lemak tubuh.

Apabila seseorang berhasil menciptakan defisit 7.000 kalori dalam seminggu, penurunan bobot bisa mendekati 1 kilogram, meskipun proses idealnya harus terjadi secara bertahap dan konsisten.

Meskipun beberapa program diet kilat dapat menunjukkan penurunan timbangan hingga 2 kilogram dalam seminggu, Slayton menjelaskan bahwa angka tersebut tidak sepenuhnya berasal dari pembakaran lemak murni.

"Yang turun bukan hanya lemak, tetapi juga cairan tubuh," katanya, merujuk pada hilangnya air yang sering terjadi akibat pembatasan asupan karbohidrat atau garam secara mendadak.

Caroline Apovian, Direktur Center for Nutrition and Weight Management di Boston Medical Center, menggarisbawahi bahwa pola makan seketat diet kilat tidak boleh dipertahankan dalam jangka panjang.