JAKARTAHYPE.COM - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) baru-baru ini memublikasikan hasil penelitian signifikan mengenai dampak polusi udara terhadap kesehatan remaja di ibu kota. Hasil survei tahun 2024 menunjukkan bahwa sebagian besar remaja di DKI Jakarta yang bersekolah di area dengan tingkat polusi tinggi menunjukkan adanya penurunan fungsi paru.

Temuan ini mengkhawatirkan karena menunjukkan adanya korelasi langsung antara kualitas udara yang buruk dengan kesehatan pernapasan generasi muda. Data spesifik menunjukkan bahwa prevalensi penurunan fungsi paru tersebut mencapai angka 13,3 persen dari total populasi remaja yang diteliti.

WHO (What) mengidentifikasi bahwa penurunan fungsi paru ini sangat berkaitan dengan tingginya konsentrasi partikel halus di udara. Partikel PM 2.5, yang dikenal mudah menembus saluran pernapasan, menjadi salah satu fokus utama dalam analisis dampak lingkungan ini.

Penelitian ini secara spesifik berfokus pada (Where) lingkungan sekolah di wilayah DKI Jakarta yang memiliki catatan pajanan polusi udara paling intens. Lokasi-lokasi ini dipilih karena merepresentasikan skenario terburuk dari paparan polusi harian yang dialami siswa.

Dokter spesialis anak, dr. Cynthia Centauri, SpA(K) Subsp. Resp, menjadi salah satu narasumber utama yang menjelaskan metodologi dan temuan riset tersebut. Beliau menggarisbawahi pentingnya memantau dampak jangka panjang polusi terhadap organ vital anak-anak.

Dokter Cynthia menjelaskan lebih lanjut mengenai kaitan antara kualitas udara saat pemeriksaan dengan hasil tes kesehatan remaja. "Terdapat hubungan antara tingginya kadar PM 2.5 pada hari pemeriksaan dengan hasil uji spirometri remaja," kata dr. Cynthia dalam sesi temu media daring.

Lebih lanjut, dr. Cynthia memberikan konteks mengenai lokasi spesifik penelitian yang menjadi fokus utama analisisnya. "Saya waktu itu meneliti sebuah sekolah di Jakarta yang pajanan polutannya paling tinggi di enam bulan terakhir," ujar dr. Cynthia dalam temu media daring, Selasa (7/6/2026).

Meskipun penelitian ini dilakukan pada tahun 2024, penjelasannya baru disampaikan secara publik pada Selasa, 7 Juni 2026, dalam sebuah konferensi pers virtual. Informasi ini memberikan gambaran mengenai kondisi kesehatan paru remaja yang sudah terakumulasi selama periode pajanan sebelumnya.

Penelitian ini (Why) bertujuan untuk memberikan data konkret kepada pemangku kepentingan mengenai urgensi pengendalian emisi dan peningkatan kualitas udara di kawasan metropolitan. Data ini diharapkan menjadi landasan kuat untuk kebijakan kesehatan publik yang lebih proaktif.