JAKARTAHYPE.COM - Masa perimenopause membawa tantangan fisik signifikan bagi perempuan, terutama karena fluktuasi hormon estrogen dan progesteron yang memicu kenaikan berat badan serta penurunan energi. Kondisi ini membuat aktivitas fisik terasa lebih berat dibandingkan sebelumnya, namun para ahli menekankan bahwa olahraga tetap krusial.
Fisiolog olahraga Rachelle Reed menjelaskan bahwa perimenopause adalah fase transisi menuju menopause di mana fungsi ovarium mulai melambat, yang berdampak pada metabolisme, tidur, dan kemampuan tubuh mempertahankan massa otot. Perubahan hormonal ini juga mempercepat penumpukan lemak, terutama di area perut, serta menyulitkan pembentukan otot.
Pelatih kebugaran Brooke Taylor menegaskan pentingnya adaptasi rutinitas latihan seiring dengan perubahan tubuh yang dialami perempuan pada fase ini. Ia menekankan bahwa pola latihan perlu berkembang mengikuti perkembangan tubuh selama perimenopause.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
Menanggapi kekhawatiran umum tentang penambahan berat badan, Reed menggarisbawahi bahwa kenaikan berat badan di usia paruh baya juga dipengaruhi oleh penurunan aktivitas fisik, kualitas tidur, dan pola makan. Riset tahun 2021 dalam Gynecological Endocrinology mengonfirmasi adanya peningkatan lemak di pinggang dan penurunan massa otot secara berkala pada masa ini.
"Kurang bergerak, melewatkan latihan kekuatan, pola makan yang tidak konsisten, dan tidur yang buruk dapat membuat kenaikan berat badan lebih mudah terjadi," jelas Reed. Kombinasi olahraga yang tepat dan pola makan sehat terbukti efektif dalam membantu pembentukan otot sekaligus mengurangi lemak tubuh.
Dilansir dari Lifestyle, para ahli kini tidak lagi menyarankan kardio berlebihan sebagai solusi utama bagi perempuan perimenopause. Latihan beban atau kekuatan dinilai memegang peran jauh lebih krusial untuk menjaga massa otot tetap aktif.
"Latihan kekuatan membantu metabolisme tetap aktif sehingga tubuh tetap membakar kalori bahkan saat sedang beristirahat," ujar Taylor mengenai manfaat utama latihan resistensi.
Penerapan latihan intensitas tinggi yang terlalu sering tanpa jeda pemulihan yang memadai justru dapat meningkatkan risiko cedera dan memperlambat pemulihan tubuh. Oleh karena itu, fokus utama harus dialihkan ke latihan resistensi yang terstruktur.
Studi tahun 2023 dalam BMC Women’s Health menunjukkan bahwa latihan resistensi rutin dua kali seminggu selama 10 minggu mampu meningkatkan kekuatan dan komposisi tubuh secara signifikan. Reed menyarankan pemula untuk melakukan latihan kekuatan seluruh tubuh selama sekitar 30 menit sebanyak dua sesi per minggu.