JAKARTAHYPE.COM - Selama bertahun-tahun, pandangan umum di kalangan peneliti kesehatan adalah bahwa duduk dalam waktu lama dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami demensia. Namun, sebuah temuan ilmiah baru mengubah perspektif tersebut, fokus pada jenis kegiatan yang dilakukan saat dalam posisi duduk.
Penelitian penting yang dipublikasikan dalam American Journal of Preventive Medicine pada Maret 2026 ini menyoroti perbedaan signifikan antara duduk secara pasif dan duduk secara aktif secara mental. Temuan ini memberikan wawasan baru tentang bagaimana kebiasaan sehari-hari memengaruhi kesehatan otak jangka panjang.
Dikutip dari Detik Health, studi tersebut secara spesifik menunjukkan bahwa mengganti kebiasaan duduk yang pasif dengan perilaku duduk yang aktif secara mental terbukti berhubungan erat dengan penurunan risiko demensia yang signifikan. Ini menggeser fokus dari sekadar mengurangi waktu duduk total.
Prediksi Astrologi 4 Juni: Aries Perlu Kendali Diri, Taurus Didesak Mengatasi Keraguan Diri
Aktivitas yang dikategorikan sebagai duduk aktif secara mental meliputi kegiatan yang memerlukan stimulasi kognitif tinggi, seperti membaca buku, mengerjakan tugas kantor yang kompleks, atau melakukan teka-teki silang. Aktivitas ini menjaga ketajaman dan fungsi berpikir otak tetap terasah.
Sebaliknya, duduk pasif secara mental didefinisikan melalui kegiatan yang minim melibatkan proses berpikir mendalam, misalnya menonton televisi atau sekadar menatap layar gawai tanpa interaksi kognitif yang berarti. Perbedaan inilah yang menjadi kunci dalam pencegahan penyakit degeneratif otak.
Para peneliti Swedia menjadi penggagas studi ini, menguji data dari lebih dari 20.000 orang dewasa yang berusia antara 35 hingga 64 tahun. Mereka memantau pola hidup dan kondisi kesehatan peserta selama periode observasi yang panjang, yaitu 19 tahun, dari tahun 1997 hingga 2016.
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
Informasi mengenai kebiasaan duduk, tingkat aktivitas fisik, dan berbagai aspek gaya hidup peserta dikumpulkan melalui kuesioner terperinci. Identifikasi diagnosis demensia pada peserta kemudian diverifikasi menggunakan rekam medis resmi serta catatan kematian yang tersedia di Swedia.
Hasil analisis akhir penelitian tersebut mengukuhkan bahwa transisi dari perilaku duduk pasif menuju duduk aktif secara mental, atau bahkan penambahan aktivitas fisik, terbukti efektif dalam menekan risiko timbulnya demensia pada kelompok usia lanjut. Meskipun riset dilakukan di Swedia, kesimpulan ini dinilai memiliki relevansi global.
Temuan ini berpotensi besar menjadi landasan penting dalam perumusan pedoman kesehatan masyarakat serta strategi pencegahan yang lebih terarah terkait penanganan kasus demensia di seluruh dunia. Hal ini menekankan pentingnya stimulasi pikiran sehari-hari.