JAKARTAHYPE.COM - Media sosial yang pernah sangat populer di era awal internet, Friendster, kini kembali hadir dengan wajah dan konsep yang benar-benar berbeda dari citra lamanya. Bagi Generasi Z yang mungkin asing dengan nama ini, Friendster dahulu dikenal dengan fitur testimonial serta tampilan profil yang penuh dekorasi.

Versi terbarunya kini mengusung desain yang lebih minimalis, personal, dan menekankan nuansa yang lebih "manusiawi" dalam interaksi digital. Platform yang sempat viral di awal tahun 2000-an ini dihidupkan kembali oleh seorang programmer bernama Mike Carson.

Mike Carson adalah tokoh sentral di balik kebangkitan ini, setelah ia mengakuisisi domain Friendster. Tujuannya adalah menghadirkan kembali pengalaman media sosial yang ia anggap lebih hangat dibandingkan dengan platform modern saat ini.

Berbeda dengan kompetitornya, Friendster versi baru ini secara eksplisit tidak mengejar metrik seperti engagement, konten viral, atau perang algoritma yang mendominasi media sosial kontemporer. Sebaliknya, fokus utama platform ini adalah memfasilitasi koneksi yang lebih nyata antar pengguna.

Dilansir dari Genz.id, platform ini kini telah tersedia secara eksklusif di perangkat iOS, dan belum ada versi web yang diluncurkan. Mike Carson menjelaskan bahwa pengembangan platform ini masih terus berjalan sesuai rencana awal yang telah disusun.

Salah satu pembeda signifikan adalah filosofi tanpa iklan, tanpa algoritma, dan tanpa praktik menjual data pengguna kepada pihak ketiga. Hal ini memastikan bahwa konten yang dilihat pengguna sepenuhnya berasal dari jejaring pertemanan mereka sendiri.

"Jadi, konten yang muncul benar-benar berasal dari koneksi pertemanan sendiri. Tidak ada sistem yang mengatur apa yang harus viral atau siapa yang harus muncul di feed kalian," jelas Mike Carson mengenai prinsip operasional platform barunya.

Fitur unik lainnya terletak pada mekanisme penambahan teman, yang dirancang untuk mendorong interaksi tatap muka. Pengguna tidak dapat sekadar mencari atau mengikuti akun secara acak seperti di platform lain.

"Sebaliknya, kalian harus mendekatkan smartphone secara fisik dengan pengguna lain agar bisa saling terhubung. Konsep ini sengaja dibuat supaya orang kembali bertemu langsung di dunia nyata," ujar Mike Carson.