JAKARTAHYPE.COM - Kisah perjalanan politik mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad, diangkat kembali dalam sebuah dokumenter terbaru yang mengupas tuntas karier panjangnya. Sosok yang dikenal dengan pendirian teguh ini merefleksikan bagaimana ia menjalani puluhan tahun kepemimpinan di Malaysia.
Dalam dokumenter berdurasi 65 menit tersebut, Mahathir berbicara mengenai pandangannya terhadap warisan yang akan ditinggalkan setelah masa baktinya berakhir. Ia menegaskan bahwa opini publik mengenai label yang melekat padanya tidak pernah menjadi perhatian utama.
"Mereka boleh melabeli saya sebagai diktator, itu hak mereka," ujar Mahathir, yang kini berusia 100 tahun, dalam film dokumenter berjudul My Name is Mahathir, sebagaimana dikutip dari SCMP.
Mahathir menegaskan bahwa sejak awal karier politiknya, ia telah memutuskan untuk fokus pada apa yang ia yakini benar demi kepentingan negara, terlepas dari penilaian orang lain. Ia berpendapat bahwa fokusnya adalah melakukan hal yang tepat bagi kesejahteraan Malaysia.
"Sejak awal, saya memutuskan bahwa saya tidak peduli apa yang dipikirkan orang tentang saya selama saya melakukan hal yang benar," tambah Mahathir, yang berhasil mengubah Malaysia dari negara agraris menjadi pusat manufaktur penting, demikian disampaikan dalam film tersebut.
Dokumenter yang menyoroti kehidupan perdana menteri terlama Malaysia—yang menjabat lebih dari 24 tahun—ini baru-baru ini meraih pengakuan internasional. Film tersebut berhasil memenangkan medali perak dalam kategori dokumenter di sebuah festival media yang diselenggarakan di Jerman pekan lalu.
Di sisi lain, Mahathir juga mengakui kompleksitas dalam pemberantasan korupsi di Malaysia. Isu ini ternyata menjadi titik perbedaan fundamental yang memicu keretakan hubungannya dengan Anwar Ibrahim pada era 1990-an.
Perbedaan pandangan mengenai penanganan korupsi itulah yang pada akhirnya berujung pada pemecatan Anwar Ibrahim, yang saat itu menjabat sebagai wakil perdana menteri dan kini telah menjadi Perdana Menteri Malaysia.
Mahathir mengakui bahwa memberantas praktik korupsi hingga tuntas merupakan tantangan yang hampir mustahil untuk diatasi sepenuhnya, sebuah realitas yang ia hadapi sepanjang masa jabatannya, dikutip dari SCMP.