JAKARTAHYPE.COM - Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menarik perhatian publik dengan dedikasinya yang luar biasa dalam memimpin negara. Sejak menjabat, ia dikenal memiliki etos kerja yang sangat tinggi, bahkan mengorbankan waktu istirahatnya demi tugas negara.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, Takaichi mengungkapkan bahwa ia hanya mendapatkan waktu tidur yang sangat singkat, bahkan terkadang hanya nol hingga tiga jam per malam. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai kesejahteraan pemimpin negara tersebut.
Minggu lalu, ia mengaku berkesempatan untuk tidur lima jam penuh untuk pertama kalinya dalam waktu yang cukup lama. Pengalaman tidur yang lebih panjang ini ia nikmati saat libur nasional akhir pekan, yang ia gunakan sebagai momen istirahat.
Meskipun memiliki jadwal yang padat dan waktu tidur yang minim, Takaichi tidak melupakan urusan pribadi. Ia masih menyempatkan diri untuk melakukan berbagai pekerjaan rumah tangga.
"Pada hari kerja, saat saya kembali ke kediaman, waktu pribadi saya sudah sangat terbatas hanya untuk membersihkan kamar mandi, mandi, makan malam, mencuci piring setelahnya, mencuci pakaian, dan sedikit rapi-rapi," tulisnya.
Ia menambahkan bahwa setelah itu, jam-jam larut malam hingga subuh dihabiskan untuk membaca materi dari Kantor Perdana Menteri atau mempersiapkan sesi tanya jawab.
Politisi dari Partai Demokrat Liberal ini juga menemukan cara untuk menikmati waktu pribadinya di tengah kesibukan. Alih-alih mencari hiburan, ia memilih kegiatan yang lebih produktif seperti menyetrika sapu tangan, menyelesaikan cucian, dan memperbaiki pakaian.
Kebiasaan bekerja keras hingga larut malam ini memang merupakan salah satu aspek budaya Jepang. Namun, jadwal kerja yang melelahkan seperti ini memiliki konsekuensi serius, di mana kelelahan ekstrem dapat berujung pada fenomena 'karoshi' atau kematian akibat terlalu banyak bekerja.
"Ini sangat mengkhawatirkan bagi seorang pemimpin negara, karena kamu ingin memiliki pengaturan emosi dan fleksibilitas kognitif," ujar peneliti dari Queensland Brain Institute, Bruno van Swinderen. Ia menambahkan, "Aku menduga sebagian besar pemimpin di seluruh dunia, dimulai dari AS, mungkin mendapatkan sangat sedikit tidur REM dan tidak memikirkan kesehatan tidur mereka sebagaimana mestinya." Dikutip dari sumber artikel.