JAKARTAHYPE.COM - Fenomena layanan jasa yang menawarkan pendampingan untuk kembali menjalin hubungan dengan mantan pasangan belakangan ini tengah menjadi sorotan, khususnya di China. Banyak individu yang masih menyimpan harapan untuk bersatu kembali dengan kekasih lama rela mengeluarkan biaya besar demi mewujudkan keinginan tersebut.

Sejumlah pelatih hubungan atau relationship coach menawarkan jasa khusus dengan tarif fantastis, bahkan mengklaim memiliki tingkat keberhasilan hingga 90 persen. Layanan ini menarik perhatian banyak orang yang sedang mengalami patah hati dan rindu pada mantan.

Salah satu klien, yang memilih menggunakan nama samaran Wan, mengaku telah mengeluarkan dana sebesar 3.500 yuan atau sekitar Rp 9,2 juta untuk mengikuti program pendampingan selama satu bulan. Sebelum menawarkan paket berbayar, klien mendapatkan sesi konsultasi gratis selama 90 menit.

Dalam sesi konsultasi tersebut, Wan diberitahu bahwa penyebab perpisahan bukanlah karena mantannya sudah tidak memiliki perasaan, melainkan karena rasa ketidakpercayaan diri yang dianggap membebani pasangannya. Pelatih tersebut juga mengaitkan masalah tersebut dengan kurangnya perhatian orang tua Wan sejak kecil.

Selama menjalani program, Wan diminta untuk tidak melakukan kontak dengan mantannya selama 21 hari pertama. Ia juga diarahkan untuk melakukan perbaikan penampilan, belajar membangun percakapan yang menarik, serta aktif di media sosial agar sang mantan melihat perubahan positif dalam dirinya.

Pelatih tersebut meyakinkan bahwa peluang untuk kembali bersama mantan bisa mencapai 90 persen jika seluruh arahan dijalankan dengan disiplin. Namun, hasil yang dialami Wan justru berbanding terbalik, ia justru diblokir oleh mantannya di aplikasi pesan setelah program selesai.

Ketika Wan mempertanyakan klaim tingkat keberhasilan yang dijanjikan, ia tidak mendapatkan penjelasan yang memuaskan. Alih-alih, ia justru ditawari paket lanjutan dengan biaya yang lebih mahal, yaitu 9.800 yuan atau sekitar Rp 25,9 juta, dengan dalih akan didampingi oleh mentor yang lebih berpengalaman.

Enam bulan setelah kejadian tersebut, Wan akhirnya menerima kenyataan bahwa hubungannya memang telah berakhir. Ia mengakui bahwa saat baru saja putus cinta, dirinya berada dalam kondisi emosional yang sangat rentan, sehingga mudah tergiur oleh tawaran yang menjanjikan kesempatan untuk kembali bersama mantan.

Fenomena ini semakin merambah luas di media sosial China, di mana banyak akun yang mengaku sebagai pakar hubungan mempromosikan layanan serupa. Tagar yang berkaitan dengan balikan dengan mantan dan tips menjaga hubungan telah dilihat miliaran kali, menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap jasa semacam ini.