JAKARTAHYPE.COM - Sebuah penemuan mengejutkan datang dari dunia parasitologi, di mana kutu penghisap darah yang selama ini dianggap hama ternyata menyimpan potensi medis luar biasa. Para peneliti dari Monash University Biomedicine Discovery Institute berhasil mengidentifikasi mekanisme biologis yang bisa merevolusi pengobatan penyakit autoimun dan peradangan kronis.

Sistem pertahanan tubuh manusia sangat bergantung pada kemokin, yaitu sinyal kimia yang berfungsi memanggil sel-sel imun ke lokasi infeksi atau ancaman. Kemokin bertindak seperti alarm darurat untuk mengeliminasi patogen atau zat asing yang masuk ke dalam tubuh.

Namun, kutu memiliki strategi cerdik untuk menipu sistem alarm tubuh ini saat mereka menempel dan mengisap darah. Mereka melepaskan protein khusus yang mereka sebut evasin, yang bertugas mencegat kemokin sebelum sempat memberi sinyal peradangan.

Dengan memblokir sinyal-sinyal kimia ini, parasit dapat menghindari deteksi dan reaksi peradangan dari inang, memungkinkan mereka bertahan hidup dan mengonsumsi darah dalam jangka waktu yang lama. Mekanisme peredaman imun inilah yang kini menarik perhatian besar para ilmuwan.

Aktivitas kemokin yang berlebihan dan tidak terkontrol pada manusia seringkali menjadi pemicu utama berbagai kondisi peradangan kronis. Kondisi ini mendasari perkembangan penyakit autoimun serius seperti rheumatoid arthritis (RA), multiple sclerosis (MS), hingga penyakit radang usus.

Studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Structure pada Februari 2026 seperti dilansir Scitechdaily, menyoroti keberhasilan tim peneliti yang dipimpin oleh Prof. Martin Stone dan Dr. Ram Bhusal. Mereka berhasil mengidentifikasi jenis evasin baru yang lebih efektif dari kutu.

Evasin jenis baru ini menunjukkan keunggulan signifikan dibandingkan varian sebelumnya, karena terbukti mampu mengikat dan menghambat bukan hanya satu, melainkan dua kelompok utama kemokin secara bersamaan.

Surendra Kunwar menjelaskan bahwa sebelumnya para ilmuwan menduga kutu menekan respons imun inang melalui pelepasan kombinasi berbagai jenis evasin, di mana setiap evasin menargetkan kelompok kemokin yang berbeda.

"Namun, dalam studi ini, kami telah mengidentifikasi evasin alami yang dapat menghambat kedua kelas utama kemokin. Ini adalah temuan baru dan mewakili kemajuan yang signifikan di bidang ini," ujar Kunwar, dilansir Scitechdaily, dikutip Minggu (5/4/2026).