JAKARTAHYPE.COM - Memasuki penghujung bulan Zulhijah, umat Islam di seluruh dunia mulai menantikan penentuan awal bulan Muharram 1448 Hijriah. Penentuan ini krusial karena menandai dimulainya tahun baru Islam.

Proses penetapan ini umumnya dilakukan melalui mekanisme sidang isbat yang melibatkan berbagai instansi terkait. Salah satu pertimbangan utama dalam sidang tersebut adalah posisi hilal (bulan sabit muda) saat matahari terbenam.

Secara spesifik, data astronomis menunjukkan bagaimana posisi hilal akan terlihat di Indonesia pada hari penetapan nanti. Ketinggian hilal menjadi indikator utama apakah bulan baru secara syar'i telah terbit atau belum.

Data yang dihimpun menunjukkan bahwa pada tanggal yang ditentukan, ketinggian hilal diprediksi berada pada posisi yang memungkinkan untuk diobservasi. Hal ini akan sangat bergantung pada kondisi geografis dan cuaca setempat saat rukyat dilaksanakan.

Informasi mengenai tinggi hilal ini biasanya menjadi bahan pembanding antara perhitungan hisab (astronomi) dan hasil rukyatul hilal (observasi langsung). Kedua metode ini saling melengkapi dalam penetapan kalender Hijriah.

Ketinggian hilal yang memenuhi kriteria tertentu, seperti yang ditetapkan oleh otoritas agama di Indonesia, akan menjadi dasar kuat untuk menetapkan 1 Muharram. Jika hilal tampak jelas, maka Muharram akan segera dimulai.

"Posisi hilal di Indonesia pada saat magrib tanggal pelaksanaan sidang isbat nanti diperkirakan cukup tinggi, sehingga ada harapan besar untuk terlihat," ujar Ali.

Dilansir dari sumber yang mengumpulkan data astronomi, prediksi ini didasarkan pada perhitungan matematis pergerakan benda langit. Data ini kemudian akan diverifikasi oleh tim rukyat di lapangan.

"Semua data hisab telah kami kumpulkan, dan kami berharap rukyatul hilal berjalan lancar tanpa halangan cuaca," kata Ali lebih lanjut.