JAKARTAHYPE.COM - Istilah tumor otak sering kali memicu bayangan terburuk dalam benak publik, diperparah oleh informasi yang simpang siur dari media sosial atau pemahaman medis yang kurang mendalam.
Kekhawatiran ini membuat banyak orang cenderung mempercayai mitos ketimbang fakta medis yang sebenarnya mengenai kondisi kompleks ini. Padahal, setiap kasus tumor otak memiliki karakteristik yang berbeda, baik dalam sifat ganas maupun gejala yang ditimbulkan.
Tumor pada dasarnya merujuk pada pertumbuhan sel abnormal, dan tidak semua pertumbuhan tersebut bersifat kanker atau ganas. Informasi yang salah kaprah ini justru sering kali menimbulkan kecemasan yang lebih besar dibandingkan realitas medis yang ada.
"Ketika berbicara tentang tumor otak, informasi yang salah tampaknya menimbulkan lebih banyak ketakutan daripada fakta sebenarnya. Mitos besar dan sangat umum adalah anggapan bahwa tumor otak bersifat kanker," kata Prof Dr Satish Rudrappa, Direktur Grup Aster International Institute of Neurosciences and Spine Care.
Faktanya, banyak tumor otak yang tergolong jinak, artinya tidak menyebar ke bagian tubuh lain. Meskipun demikian, karena lokasinya berada di organ vital, tumor tetap berpotensi mengganggu fungsi otak dan memerlukan penanganan medis yang tepat.
Gejala yang muncul akibat tumor sangat bervariasi, bergantung pada lokasi tumbuhnya di dalam otak; bagi sebagian pasien, sakit kepala mungkin menjadi indikasi awal. Namun, hal ini tidak berlaku universal bagi semua penderita.
"Pada kenyataannya, gejala individu dapat sangat bervariasi dari orang ke orang, dan tidak semua pasien mengalami sakit kepala sejak dini," kata Prof Rudrappa.
Beberapa pasien justru mengalami gejala lain terlebih dahulu, seperti kejang, kesulitan berbicara, kelemahan anggota gerak, perubahan kepribadian, hingga masalah keseimbangan tubuh.
"Bahkan masalah tersebut mungkin mulai terjadi sebelum sakit kepala, dan itulah yang tidak disadari," tambahnya.