JAKARTAHYPE.COM - Sebuah insiden tragis menimpa satu keluarga, termasuk seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM), yang menyebabkan empat orang meninggal dunia saat berkemah di Taman Wisata Alam Posong, Temanggung, Jawa Tengah. Kepolisian setempat telah mengkonfirmasi bahwa penyebab pasti kematian mereka adalah keracunan gas karbon monoksida (CO).

Penyebab utama keracunan tersebut diidentifikasi berasal dari penggunaan tungku berbahan dasar arang atau briket yang dinyalakan di dalam tenda yang tertutup rapat. Aktivitas ini menciptakan lingkungan ideal bagi penumpukan gas CO yang mematikan tanpa disadari oleh para korban.

Prof Agus Dwi Susanto, Spesialis Paru dari RS Paru Persahabatan, menjelaskan karakteristik berbahaya dari gas karbon monoksida. Menurutnya, CO termasuk dalam kelompok gas asfiksian yang sangat agresif dalam mengganggu suplai oksigen ke dalam sistem peredaran darah manusia.

Berbeda dengan gas iritan lain yang sering memicu batuk atau iritasi mata, keracunan CO memiliki sifat yang menyelinap tanpa memberikan sinyal peringatan dini kepada korbannya. Hal ini meningkatkan risiko fatalitas secara signifikan bagi siapa pun yang terpapar.

Prof Agus memaparkan mekanisme masuknya gas berbahaya tersebut ke dalam tubuh manusia. "Ketika gas CO ini terhirup oleh seseorang, masuk ke saluran napas, dia akan masuk ke pembuluh darah yang ada di paru yang disebut namanya alveoli," jelas Prof Agus.

Selanjutnya, gas CO akan berebut tempat dengan oksigen yang seharusnya diikat oleh hemoglobin (HB) dalam darah. "Di situ CO akan masuk ke dalam darah, ketika dia ada di dalam darah, dia akan bersaing dengan oksigen yang kita hirup. Kekuatan CO mengikat HB (hemoglobin) itu 300 kali lebih kuat daripada oksigen mengikat HB," kata Prof Agus.

Pakar tersebut juga merinci bahwa tingkat keparahan kadar CO dalam darah, yang dikenal sebagai Carboxyhemoglobin (HbCO), meningkat secara cepat dan sistematis, merusak fungsi organ vital tubuh secara bertahap. Kondisi ini menjadi sangat berbahaya, terutama jika paparan terjadi saat korban sedang beristirahat.

Situasi menjadi jauh lebih mematikan ketika korban menghirup gas CO saat sedang tertidur nyenyak atau beristirahat. Rasa kantuk yang menjadi gejala awal sangat mudah disalahartikan sebagai rasa ingin tidur biasa, sehingga transisi menuju pingsan dan koma terjadi tanpa adanya kesadaran.

"Biasanya orang nggak menyadari itu kalau saat dia keracunan CO, karena tadi nggak ada rasanya, nggak ada baunya, nggak berwarna, nggak tahu tuh," tutur Prof Agus mengenai sifat gas yang tidak terdeteksi oleh indra manusia.