JAKARTAHYPE.COM - Kisah inspiratif datang dari Tangerang, di mana seorang mantan dosen dan alumni Magister Teknik Industri ITB, Anantasari, S.Si., MT., berhasil mempopulerkan bisnis laundry ramah lingkungan. Wanita yang akrab disapa Ananta ini membuka usaha tanpa menggunakan deterjen kimia konvensional yang kerap mencemari lingkungan.

Melalui akun Instagram pribadinya, @nanta2208, Ananta membagikan inovasinya dalam memanfaatkan sabun cair eco enzym buatan sendiri untuk operasional bisnisnya. Laundry yang berlokasi di Bintaro Sektor 3A, Tangerang, Banten, ini menawarkan keunggulan ganda: pakaian bersih dan air sisa cucian yang aman untuk menyiram tanaman.

Rahasia utama dari formula pembersih ini adalah kombinasi antara eco enzym buatan sendiri dan Methyl Ester Sulfonate (MES). Ananta menjelaskan bahwa MES merupakan surfaktan anionik yang diekstrak dari minyak nabati, menjadikannya mudah terurai di alam.

Cairan eco enzym tersebut didapatkan dari proses pengolahan sampah kulit buah, seperti jeruk dan nanas, serta sisa sampah buah lainnya. Penggunaan formula alami ini terbukti efektif membersihkan pakaian sekaligus menekan biaya operasional bisnisnya menjadi lebih berkelanjutan.

Lebih jauh lagi, cairan eco enzym serbaguna buatan Ananta ini tidak hanya terbatas untuk mencuci pakaian saja. Cairan tersebut ternyata juga dapat diaplikasikan untuk berbagai keperluan rumah tangga lain, termasuk sabun mandi, pencuci piring, hingga cairan pembersih lantai.

Ananta secara aktif membagikan ilmunya kepada masyarakat yang tertarik menerapkan gaya hidup minim limbah. Ia bahkan membuka kesempatan bagi siapa saja yang ingin belajar langsung cara membuat sabun eco enzym di kediamannya.

Unggahan mengenai inovasi bisnis laundry go-green ini sontak menarik perhatian warganet yang penasaran ingin mencoba formula eco enzym. "Bikin eco enzym nya gmn?" tanya pengguna Instagram @3.ahmad2024 menanggapi unggahan tersebut.

Saat dihubungi mengenai viralnya inovasi tersebut, Ananta menceritakan bahwa bisnis UMKM laundry miliknya yang diberi nama Binatu Koe lahir dari keprihatinan mendalam terhadap ekosistem sekitar. "Ide awal pemakaian sabun ini karena panggilan hati untuk tidak semakin mencemari lingkungan sekitar, khususnya selokan. Karena limbah air cucian dialirkan langsung ke selokan," ungkap Ananta kepada Wolipop.

Ananta menjelaskan secara rinci mengenai bahan dasar eco enzym yang ia gunakan, yang berasal dari sisa sayur dan buah segar. "Eco enzyme adalah cairan fermentasi limbah kulit buah ataupun bonggol sayur yang masih segar. Rumusan pembuatannya adalah satu bagian gula (bisa gula merah, gula tebu, molase atau tetes tebu), tiga bagian bahan atau limbah organik yang masih segar, dan sepuluh bagian air (bisa air tanah, sumur, air hujan, atau air buangan AC). Dicampurkan semua dan difermentasi selama 90 hari atau 3 bulan," papar alumnus ITB tersebut.