JAKARTAHYPE.COM - PT Prodia Diagnostic Line Tbk ($PRDL), sebuah entitas asosiasi dari Prodia Widyahusada ($PRDA), bersiap untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui penawaran saham perdana (IPO). Perusahaan ini dikenal sebagai produsen alat kesehatan in vitro diagnostic (IVD) yang telah beroperasi sejak tahun 2010.
Perusahaan ini memiliki lini produksi yang beragam, mencakup pembuatan dan perakitan alat kesehatan dengan merek sendiri, yaitu Proline, selain juga memproduksi berdasarkan merek distributor dan prinsipal. Saat ini, PRDL mengelola sekitar 1.083 Stock Keeping Unit (SKU) aktif yang tersebar di segmen hematologi, kimia klinik, imunologi & biomolekular, serta instrumen.
Jaringan distribusi PRDL terbilang luas, melayani kebutuhan sekitar 7.294 fasilitas kesehatan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Produk-produk tersebut diproduksi di pabrik mereka yang berlokasi di Cikarang, dengan kapasitas yang mencakup keempat kategori produk utama tersebut.
Terkait proyeksi kapasitas produksi hingga tahun 2025, terjadi peningkatan signifikan pada beberapa segmen, khususnya pada Kimia Klinik dan Hematologi. Kapasitas Kimia Klinik diproyeksikan naik 81% YoY menjadi 268.800 liter, sementara tingkat produksinya melonjak 91% YoY menjadi 16.580 liter.
Untuk kategori Hematologi, kapasitas produksi diprediksi melonjak 148% YoY mencapai 1.848.000 liter, dengan tingkat produksi yang menunjukkan pertumbuhan fantastis 364% YoY menjadi 61.536 liter. Sementara itu, kategori Instrumen juga menunjukkan pertumbuhan tingkat produksi hingga 323% YoY mencapai 778 unit.
Namun, pada kategori Immunologi & Biomolekular, terjadi penurunan pada tingkat produksi sebesar 15% YoY, meskipun kapasitas produksinya berada di angka 50.400.000 test. "Tingkat produksi sebesar 2.700 test turun 15% YoY," sebagaimana tercatat dalam dokumen perusahaan.
Sepanjang tahun 2025, hampir seluruh pendapatan PRDL, yakni 88%, berasal dari pihak ketiga dan sepenuhnya diarahkan untuk pasar domestik. Kontributor pendapatan terbesar berasal dari PT Rajawali Nusindo yang menyumbang 33% atau setara Rp24,5 miliar dari total pendapatan.
"Kontribusi terbesar berasal dari PT Rajawali Nusindo sebesar 33% atau senilai Rp24,5 miliar, disusul PT Visi Trading Distribusi dengan kontribusi 11% senilai Rp8,2 miliar, serta PT Sumbermitra Agungjaya dengan kontribusi 10% senilai Rp7,7 miliar," demikian dikutip dari prospektus awal. Selain itu, PT Innovasi Diagnostika juga menyumbang 7% atau Rp5,3 miliar dari total pendapatan perusahaan.
Kinerja keuangan PRDL menunjukkan fluktuasi, di mana pendapatan tercatat Rp111,8 miliar pada 2023, turun 48% menjadi Rp58,7 miliar pada 2024, sebelum akhirnya pulih 27% menjadi Rp74,4 miliar pada 2025. Penurunan kinerja pada 2024 dijelaskan karena adanya high-base effect dari proyek one-off pemeriksaan kesehatan profil lipid oleh Kementerian Kesehatan di tahun 2023.