JAKARTAHYPE.COM - Sebuah forum diskusi mengenai dinamika rekrutmen di dunia kerja telah sukses terselenggara dalam rangkaian acara GenZon ICC. Acara ini bertujuan memberikan panduan praktis mengenai proses seleksi kerja kepada para mahasiswa.
Acara penting ini dilaksanakan di lingkungan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Purwokerto. Sesi ini menjadi sorotan karena menghadirkan seorang praktisi Sumber Daya Manusia (SDM) yang juga dikenal sebagai pembuat konten inspiratif di bidang karir.
Tujuan utama dari kegiatan ini adalah membekali mahasiswa dengan wawasan terkini mengenai apa yang sebenarnya dicari oleh perusahaan saat melakukan penjaringan kandidat. Fokusnya adalah memberikan pemahaman yang lebih mendalam dari sudut pandang praktisi HR.
Dalam sesi tersebut, terungkap sebuah fakta penting mengenai penilaian kualifikasi calon karyawan di perusahaan. Praktisi HR tersebut memaparkan bahwa Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) bukanlah satu-satunya, bahkan bukan penentu utama kelolosan seorang kandidat.
Dilansir dari INFOTREN.ID, praktisi tersebut membagikan pengalamannya selama bertahun-tahun berkecimpung dalam proses seleksi tenaga kerja. Pembahasan ini sangat relevan bagi mahasiswa tingkat akhir yang sedang mempersiapkan diri memasuki pasar kerja profesional.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah mengenai perspektif perekrut saat melihat berkas lamaran masuk. "IPK itu hanya gerbang awal, seleksi sesungguhnya ada pada bagaimana soft skill dan potensi yang dimiliki kandidat," ujar praktisi HR tersebut.
Hal ini menggarisbawahi pergeseran paradigma dalam penilaian talenta, di mana kemampuan non-akademis semakin mendapat perhatian besar dari tim rekrutmen. Perusahaan kini mencari individu yang adaptif dan memiliki kemampuan interpersonal yang baik.
Sesi berbagi wawasan ini merupakan bagian integral dari acara GenZon ICC yang diselenggarakan oleh pihak kampus. Acara ini dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan tuntutan nyata di lingkungan profesional.
Para mahasiswa tampak antusias mengikuti pemaparan tersebut, menunjukkan kesadaran bahwa persiapan karir memerlukan strategi yang lebih komprehensif daripada sekadar mengejar nilai sempurna di bangku kuliah.