Jakarta, 5 Mei 2026 – Transformasi digital Indonesia dinilai tidak cukup hanya ditopang oleh kecanggihan teknologi, melainkan harus berakar pada perubahan pola pikir (mindset). Pesan utama ini mengemuka dalam Studium Generale Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI) – DIGDAYA x Hackathon 2026 bertajuk “Berinovasi untuk Masa Depan, Memberdayakan Talenta Digital”.
PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 merupakan inisiatif nasional yang digagas oleh Bank Indonesia (BI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pelaku industri, serta berbagai mitra strategis. Program ini bertujuan mempercepat transformasi ekonomi dan keuangan digital di tanah air.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa BI berkomitmen membekali talenta muda dengan kompetensi teknis di bidang inovasi digital dan kewirausahaan. “Ini adalah momentum bagi kita semua untuk berubah, belajar, dan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk berbagai kepentingan yang bermanfaat,” ujar Perry saat peluncuran program tersebut di Jakarta.
Dalam sesi bertajuk “Shaping Indonesia’s Digital Minds: Building Talent for an Innovation-Driven Economy”, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Stella Christie, menyoroti tantangan di era AI. Mengacu pada data World Economic Forum, diproyeksikan akan lahir 170 juta pekerjaan baru hingga 2030, namun 92 juta pekerjaan lainnya terancam hilang.
“Transformasi digital dimulai dari cara berpikir, bukan teknologinya. Kita tidak boleh terjebak pada tren semata. Keterampilan yang berpusat pada manusia, seperti berpikir kritis, analitis, kepemimpinan, dan kemampuan beradaptasi, harus diperkuat agar tidak mudah tergantikan oleh AI,” jelas Prof. Stella.
Perspektif ini sejalan dengan praktik di industri, sebagaimana disampaikan oleh Co-Founder Flip, Rafi Putra Arriyan. Dalam sesi “Turning Mindset into Real-World Innovation”, Rafi menekankan bahwa inovasi yang sukses bermula dari pemahaman mendalam terhadap masalah nyata yang dihadapi pengguna.
“Flip bermula dari solusi sederhana untuk mengatasi biaya transfer antarbank. Inovasi sesungguhnya terjadi ketika kita tetap dekat dengan pengguna untuk memahami kebutuhan mereka yang terus berkembang, mulai dari belanja hingga menabung,” ungkap Rafi.
Saat ini, Flip telah melayani lebih dari 16 juta pengguna di Indonesia. Rafi menambahkan bahwa banyak inovasi gagal karena hanya menarik secara konsep tetapi tidak relevan dengan kebutuhan pasar. Ia mendorong para inovator muda untuk mengadopsi “start small mindset” dan fokus pada solusi yang berkelanjutan.
Melalui sinergi antara regulator, akademisi, dan pelaku industri, PIDI – DIGDAYA x Hackathon 2026 diharapkan mampu melahirkan talenta digital unggul serta solusi inovatif yang siap diimplementasikan demi kemajuan ekosistem digital Indonesia.