JAKARTAHYPE.COM - Menjelang penyelenggaraan Piala Dunia 2026 yang akan digelar bersama di Amerika Utara, kota Los Angeles (LA) dilaporkan sedang meningkatkan upaya penataan ruang publiknya. Fokus utama pemerintah kota saat ini adalah pembersihan area trotoar dari permukiman sementara berupa tenda-tenda kumuh.

Aksi penataan ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan menyambut kedatangan tim nasional dan para suporter dari seluruh dunia yang akan memadati kota tersebut. Langkah ini menimbulkan perhatian publik mengenai nasib ribuan warga yang sebelumnya tinggal di jalanan.

Pemerintah Kota Los Angeles, di bawah kepemimpinan Wali Kota Karen Bass, mengambil inisiatif untuk merelokasi warga tunawisma tersebut ke fasilitas hunian sementara. Program ini bertujuan menyediakan tempat tinggal yang lebih layak sebelum hajatan olahraga internasional tersebut dimulai.

Untuk mewujudkan program relokasi ini, Pemerintah Kota LA telah mengalokasikan dana yang signifikan, mencapai USD 300 juta atau setara dengan sekitar Rp 4,8 triliun. Anggaran tersebut diperuntukkan bagi penyediaan unit-unit rumah prefabrikasi khusus.

Unit hunian sementara yang disediakan oleh pemerintah kota tersebut dikenal sebagai 'tiny homes'. Rumah-rumah prefabrikasi ini memiliki ukuran yang sangat ringkas, yakni hanya seluas 6 meter persegi per unitnya untuk setiap penghuni.

Salah satu warga yang telah direlokasi ke hunian baru tersebut adalah Michael Gilpin, yang usianya kini mencapai 44 tahun. Ia memberikan pandangannya mengenai kondisi tempat tinggal barunya tersebut.

"Rumah satu ruangan itu mirip sel penjara," kata Michael Gilpin.

Namun, di sisi lain, Gilpin juga mengakui adanya peningkatan signifikan dalam kualitas hidupnya dibandingkan dengan kondisi sebelumnya. Ia menyatakan bahwa tempat tinggal baru ini jauh lebih baik daripada harus tidur di jalanan atau di dalam mobil.

"Namun, dia juga mengakui bahwa tempat tinggal itu jauh lebih baik daripada saat dia tidur di dalam mobil dan berurusan dengan kecoak," ujar Michael Gilpin.