JAKARTAHYPE.COM - Sebuah restoran yang bergerak di industri kuliner mendadak menjadi sorotan publik setelah memutuskan untuk menggunakan gambar menu yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan (AI). Keputusan ini, yang dimaksudkan sebagai inovasi promosi, justru berujung pada gelombang protes dari para konsumennya.
Penggunaan teknologi AI dalam berbagai sektor kini semakin lumrah, termasuk dalam ranah industri makanan dan minuman. Banyak pelaku usaha kuliner mulai mengadopsi teknologi ini untuk berbagai keperluan promosi.
Salah satu pemanfaatan AI yang mulai marak adalah dalam pembuatan materi promosi, baik itu berupa deskripsi menu yang menarik maupun visualisasi gambar produk yang menggugah selera.
Namun, apa yang terjadi pada restoran ini justru berbanding terbalik. Alih-alih menarik minat pelanggan, visual menu ayam goreng yang diciptakan oleh AI justru menimbulkan reaksi negatif.
Para warganet yang melihat tampilan menu tersebut ramai-ramai melontarkan keluhan. Mereka menilai gambar ayam goreng tersebut memiliki tampilan yang aneh dan bahkan cenderung menjijikkan.
Beberapa komentar dari warganet bahkan menyebutkan bahwa visual menu tersebut memicu rasa tidak nyaman, bahkan ada yang mengaitkannya dengan kondisi trypophobia, yaitu ketakutan terhadap pola lubang-lubang kecil yang berdekatan. Hal ini menunjukkan ketidaksesuaian antara ekspektasi konsumen terhadap tampilan makanan dan realitas visual yang disajikan.
Kritik ini mencuat setelah restoran tersebut mempublikasikan materi promosi yang menampilkan gambar ayam goreng hasil olahan AI. Penggunaan teknologi mutakhir ini, yang diharapkan dapat meningkatkan daya tarik visual, justru menimbulkan kontroversi.
Reaksi negatif yang muncul dari netizen menandakan bahwa penerapan teknologi AI dalam aspek visual promosi kuliner memerlukan pertimbangan matang. Tampilan yang tidak sesuai standar keindahan dan selera umum dapat berdampak buruk pada persepsi pelanggan terhadap kualitas produk.
Oleh karena itu, penting bagi pelaku usaha kuliner untuk tetap mengedepankan estetika yang menggugah selera dan sesuai dengan norma-norma visual yang berlaku di masyarakat, meskipun memanfaatkan teknologi AI.