JAKARTAHYPE.COM - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sedang mengintensifkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Daerah Tangkapan Air (DTA) Danau Toba, Sumatra Utara. Upaya strategis ini dilakukan sebagai langkah antisipatif terhadap potensi dampak jangka panjang dari musim kemarau serta fenomena El Nino yang diprediksi terjadi pada tahun 2026.

Fokus utama dari optimalisasi OMC di Danau Toba ini adalah untuk memastikan ketersediaan cadangan air yang memadai bagi kebutuhan regional. Langkah ini sejalan dengan prioritas pemerintah pusat dalam menjaga ketahanan air nasional di tengah tantangan perubahan iklim global.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa peningkatan aktivitas ini merupakan tindak lanjut langsung dari instruksi Presiden RI Prabowo Subianto. Saat ini, BMKG tengah berupaya memperkuat infrastruktur pendukung yang diperlukan untuk keberhasilan operasi ini.

"Instruksi Presiden sangat jelas, BMKG harus diperkuat, terutama dalam pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Saat ini kami sedang berproses," ujar Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resminya, dikutip Sabtu (2/5/2026).

Peningkatan frekuensi operasi ini didorong oleh prediksi bahwa perubahan iklim akan mengakibatkan musim kemarau datang lebih cepat dan berlangsung dalam durasi yang lebih panjang. Prioritas fasilitas OMC adalah menjaga stabilitas debit bendungan untuk menopang sektor energi dan pertanian.

Selain itu, kegiatan modifikasi cuaca ini juga ditujukan sebagai upaya preventif guna meminimalisir risiko terjadinya Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di kawasan sekitar. BMKG berkomitmen untuk terus memberikan dukungan penuh dalam pengelolaan sumber daya air.

"OMC pasti akan terus ditingkatkan frekuensinya untuk menjaga debit bendungan dan mencegah Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Ke depan, BMKG siap terus memberikan dukungan penuh untuk melaksanakan operasi pengelolaan air sebaik-baiknya," kata Teuku Faisal Fathani.

Rangkaian operasi penyemaian awan di wilayah Danau Toba telah dijadwalkan berlangsung selama periode 25 hari, dimulai sejak tanggal 9 April hingga berakhir pada 3 Mei 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG, Tri Handoko Seto, memberikan perkembangan terkini mengenai pelaksanaan lapangan. Tim di lokasi telah berhasil melakukan puluhan sorti penyemaian awan untuk memicu turunnya hujan di area tangkapan air tersebut.