JAKARTAHYPE.COM - Seorang wanita di Leasowe, Merseyside, Inggris, menghadapi ancaman kehilangan tempat tinggalnya akibat kondisi hoarding disorder ekstrem yang dideritanya. Kebiasaan menimbun barang yang dimulai sejak masa pandemi COVID-19 ini kini telah meluas hingga mencakup sampah sisa makanan, menciptakan lingkungan yang tidak sehat dan mengundang hama.
Perjalanan hidup Ruth Cookson, sebagaimana dilaporkan oleh BBC, menunjukkan bagaimana kesulitan di masa kecil dalam membuang barang berlanjut hingga dewasa. Dorongan untuk menimbun berbagai macam benda, mulai dari pakaian hingga peralatan dapur, semakin menguat seiring waktu.
Kondisi apartemen satu kamar milik Ruth kini telah mencapai titik kritis. Seluruh akses di dalam rumahnya tertutup oleh tumpukan barang, memaksa dirinya harus memanjat untuk berpindah antar ruangan.
Lantai ruang tamunya bahkan tidak terlihat lagi, tertutup rapat oleh kotak kardus, kantong plastik, wadah bekas, dan barang-barang baru yang dibeli untuk menggantikan barang lama yang hilang. Hal ini menunjukkan siklus tanpa akhir yang dialami penderita hoarding disorder.
Ruth Cookson mengungkapkan bagaimana ia tidak bisa menghentikan kebiasaannya menimbun barang, bahkan jika ia memiliki barang yang sama berkali-kali lipat. "Buku mewarnai, peralatan dapur, pakaian, mantel, apa saja yang bisa Anda pikirkan, semuanya saya timbun. Dan saya tidak cuma punya satu, bisa dua, tiga, bahkan empat buah untuk barang yang sama," ujarnya.
Lebih jauh, kondisinya telah berkembang menjadi wet hoarding, sebuah tahapan yang lebih berbahaya di mana sampah makanan dibiarkan membusuk. Kondisi ini menciptakan bau tak sedap dan menarik hama serta hewan pengerat ke dalam rumah.
Tren Kencan 'Four Sixes' Mendapat Sorotan: Standar Ideal Pria yang Dianggap Tidak Realistis
Para ahli mengaitkan hoarding disorder dengan trauma mendalam dan rasa kehilangan. Ruth sendiri menyadari bahwa peristiwa traumatis di masa lalunya, termasuk kebakaran rumah saat berusia lima tahun yang menewaskan dua kerabatnya dan hubungan yang toksik, kemungkinan besar menjadi pemicu kondisinya.
Bagi Ruth, tumpukan barang tersebut secara tidak sadar berfungsi sebagai mekanisme pertahanan diri, sebuah benteng untuk mengisolasi diri dari dunia luar yang menyakitkan. Namun, benteng ini justru berubah menjadi penjara sosial yang menyiksanya.
"Rasanya sangat memalukan. Jika ada petugas yang datang untuk memeriksa meteran listrik, saya tidak akan membiarkan mereka masuk karena melihat kondisi apartemen yang hancur berantakan. Saya hanya merasa sangat malu dan bersalah," curhatnya.