JAKARTAHYPE.COM - Perkembangan pesat industri fesyen lokal di Indonesia kini membawa tantangan baru yang lebih kompleks bagi para pelaku kreatif. Kini, memiliki produk dengan material unggulan dan desain yang memukau saja tidak lagi menjadi jaminan kesuksesan di tengah pasar yang semakin jenuh.
Hal ini terungkap dalam diskusi JF3 bertajuk "Recrafted: Shaping the Future", di mana para praktisi industri sepakat bahwa kualitas produk kini hanya dianggap sebagai syarat minimum yang harus dipenuhi sebelum koleksi diluncurkan ke publik.
Untuk meraih loyalitas konsumen dan mendominasi pasar, merek-merek fesyen dituntut untuk menawarkan nilai tambah yang kuat, yang kemudian harus dikomunikasikan melalui narasi yang selaras dan konsisten.
Prediksi Astrologi 4 Juni: Aries Perlu Kendali Diri, Taurus Didesak Mengatasi Keraguan Diri
Pergeseran fokus ini dipicu oleh konsumen modern, terutama generasi Z, yang semakin kritis dan selektif dalam memilih produk gaya hidup, didorong oleh kesadaran kolektif terhadap isu-isu global.
Kepala Desk Budaya Harian Kompas, Hilmy Faiq, menyoroti bahwa pakaian kini tidak lagi dilihat hanya sebagai kebutuhan estetika atau penutup tubuh semata, melainkan harus merepresentasikan nilai-nilai tertentu yang dianut oleh pelanggan.
"Sekarang ini misalnya isu yang ramai dibicarakan kan soal planet, soal bumi, lalu soal kemanusiaan, soal kesetaraan. Nah, produk-produk yang erat kaitannya dengan isu-isu besar itu paling banyak dicari," ungkap wartawan senior yang juga merupakan pengamat fesyen ini di Summarecon Discovery, Jakarta Utara, Selasa (19/5/2026).
Keanu Reeves Blak-blakan Soal Hubungan 7 Tahun dengan Alexandra Grant: "Dia Mudah Dicintai"
Narasi yang kuat mengenai proses produksi hingga dampak sosial yang ditimbulkan oleh sebuah merek kini menjadi daya tarik utama yang bahkan dapat mengalahkan aspek visual produk itu sendiri. Konsumen ingin merasa menjadi bagian dari ekosistem kebaikan saat mereka membeli, misalnya dengan mendukung pelestarian alam atau pemberdayaan kelompok rentan.
"Jadi produk tidak bisa dilihat hanya ia nyaman enggak dipakai. Harganya terjangkau tidak. Tapi di balik itu ada pesan apa? Apakah misalnya produknya itu memberdayakan masyarakat sekitar? Apakah produknya itu kemudian memanusiakan pekerja?" sambung Hilmy Faiq.
Menurut Hilmy, kenyamanan emosional yang didapatkan konsumen melalui narasi merek perlahan mulai menggeser dominasi kenyamanan fisik produk atau kerumitan desain dalam menentukan keputusan pembelian.